
Di senja yang layu, aku duduk di bawah rindang pohon akasia, menyaksikan langit yang tak lagi biru. Warna jingga di cakrawala terasa seperti firasat, mengirimkan pesan samar yang tak mampu kuuraikan. Dalam hening ini, pikiranku terusik oleh sesuatu yang belum nyata, tetapi begitu nyata di sudut jiwaku.
Aku takut pada esok yang masih menjadi rahasia. Bukan karena aku tahu apa yang akan datang, tetapi justru karena ketidaktahuan itu sendiri. Apakah hujan akan turun terlalu deras hingga menenggelamkan mimpiku? Apakah matahari akan bersinar terlalu terik hingga membakar harapanku? Atau mungkin, angin akan berhenti berembus, meninggalkan aku dalam kekosongan yang membeku?
Kekhawatiran ini seperti bayang-bayang yang menari di dinding. Ia hadir meski tanpa tubuh, menghantui meski tanpa suara. Aku mencoba mengusirnya, namun ia selalu kembali, menjelma menjadi sosok lain—lebih besar, lebih gelap, lebih menakutkan.
“Apa yang kau takutkan, jika itu belum terjadi?” bisik suara dalam diriku.
Aku terdiam, mencoba menjawab, tapi bibirku terkunci oleh keraguan. Aku ingin mengatakan bahwa aku tak takut, namun hatiku tahu itu dusta.
Ketidaktahuan adalah labirin tanpa peta. Setiap langkahku terasa berat, setiap tikungan mengintimidasi. Aku ingin percaya bahwa di ujung sana ada jalan keluar, ada cahaya, ada kebahagiaan. Tapi bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika labirin ini tak pernah berakhir?
Aku menggenggam tanah di bawahku, merasakan butiran halusnya yang dingin. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa saat ini—di sini, di bawah pohon akasia ini—aku masih utuh. Kekhawatiran itu, apa pun bentuknya, belum menjadi kenyataan. Namun, pikiran ini tetap berlari, terus menelusuri kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum ada, yang mungkin tak akan pernah ada.
Barangkali, inilah kutukan manusia. Selalu mengkhawatirkan apa yang belum terjadi, melupakan bahwa hidup sejatinya adalah saat ini. Namun, meski aku tahu itu, aku tetap terjebak dalam bayang-bayang.
Dan senja pun berakhir. Kegelapan merayap perlahan, membisikkan sesuatu yang membuatku bertanya—akankah malam ini juga dipenuhi kekhawatiran, atau justru menjadi awal dari ketenangan? Aku tak tahu. Dan ketidaktahuan itu, lagi-lagi, adalah sumber kegundahanku.