Zahrotul Aini: Gadis Ceria dari Jalan Rajawali, Sampang, yang Tetap Kuat Meski Menyimpan Luka

Zahrotul

Sampang, Jawa Timur — Zahrotul Aini, atau yang akrab dipanggil Zahra, adalah seorang remaja yang berasal dari Jalan Rajawali, Kabupaten Sampang, Indonesia. Zahra dikenal sebagai anak yang ceria, ramah, dan mudah bergaul. Banyak orang melihat Zahra sebagai pribadi yang selalu tersenyum. Namun, di balik keceriaannya itu, Zahra menyimpan cerita hidup yang tidak selalu mudah. Ia adalah tipe anak yang jarang bercerita tentang kesedihannya dan lebih memilih memendam perasaan sendiri.

Zahra merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sebagai anak tengah, Zahra terbiasa belajar mengalah dan memahami orang lain. Di dalam keluarganya, Zahra tumbuh dengan didikan yang sederhana. Orang tuanya mengajarkan arti kerja keras, tanggung jawab, dan saling membantu. Sejak kecil, Zahra sudah terbiasa ikut membantu orang tua dengan caranya sendiri. Kebiasaan membantu inilah yang kemudian membentuk sikap mandiri dalam diri Zahra hingga ia tumbuh remaja.

Salah satu hal unik dari Zahra adalah kebiasaannya membawa jualan ke sekolah. Ia sering membantu orang tuanya dengan membawa dagangan, seperti jajanan atau makanan ringan. Kadang jualannya laku terjual, kadang juga tidak. Bahkan, sering kali dagangan tersebut justru habis dimakan sendiri karena tidak ada yang membeli. Meski begitu, Zahra tidak pernah merasa malu. Ia justru terlihat santai dan bisa tertawa dengan keadaannya sendiri. Kebiasaan ini membuat teman-temannya mengenal Zahra sebagai anak yang sederhana, tidak gengsi, dan mau berusaha.

Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, Zahra dikenal sebagai anak yang ramah dan suka menolong. Ia tidak segan membantu teman yang kesulitan pelajaran. Sikapnya yang ringan dan ceria membuat banyak teman merasa nyaman berada di dekatnya. Namun, di balik sikap ramah itu, Zahra menyimpan luka-luka kecil dalam hidupnya. Ia jarang mengeluh dan lebih sering memendam perasaan. Saat merasa sedih atau kecewa, Zahra memilih diam dan berusaha menguatkan dirinya sendiri. Sikap ini menunjukkan bahwa Zahra adalah anak yang kuat, meski kadang ia harus berjuang sendirian.

Soal pendidikan, Zahra termasuk anak yang tekun. Selama menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Zahra sering mendapatkan peringkat lima besar di kelas. Prestasi ini tidak datang begitu saja. Zahra terbiasa mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh dan berusaha memahami pelajaran, meskipun tidak selalu mudah. Ia bukan anak yang merasa paling pintar, tetapi ia mau belajar dan tidak mudah menyerah ketika menemui kesulitan.

Selain sering masuk peringkat lima besar, Zahra juga pernah meraih prestasi yang cukup membanggakan. Ia pernah mendapatkan nilai terbaik TKA dan berada di peringkat 9 di tingkat sekolah kejuruan. Prestasi ini menjadi salah satu momen penting dalam hidup Zahra. Bagi Zahra, pencapaian tersebut adalah bukti bahwa usahanya selama ini tidak sia-sia. Ia merasa bangga bisa membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana pun bisa berprestasi di sekolah.

Zahra tidak memiliki mimpi yang terlalu muluk-muluk. Ia hanya ingin hidup lebih baik di masa depan, bisa mandiri, dan membahagiakan orang tuanya. Ia sadar bahwa jalan hidup tidak selalu mudah, tetapi ia percaya bahwa dengan usaha dan kesabaran, sedikit demi sedikit hidup bisa berubah menjadi lebih baik. Setiap hari, Zahra berusaha menjalani hidupnya dengan sederhana: membantu orang tua, belajar dengan sungguh-sungguh, dan tetap tersenyum meski hatinya kadang lelah.

Kisah Zahrotul Aini adalah gambaran tentang seorang remaja biasa dengan semangat yang luar biasa. Ia bukan anak yang hidup serba mudah, tetapi ia tidak menjadikan keadaannya sebagai alasan untuk menyerah. Dari Jalan Rajawali, Sampang, Zahra tumbuh menjadi sosok yang ceria, sederhana, dan kuat. Ceritanya mengajarkan bahwa di balik senyum seseorang, bisa saja ada perjuangan yang tidak terlihat. Namun, selama ada kemauan untuk terus melangkah, harapan akan selalu ada.

Selamat Hari Lansia Nasional 29 Mei 2025 | Komunitas Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Sampang Rayakan dengan Senam Bersama

EEN SAMPANG

SAMPANG – Dalam rangka memperingati Hari Lansia Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Mei 2025, Komunitas Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Sampang mengadakan kegiatan senam bersama yang berlangsung meriah di Taman Wijaya, tepat di depan GOR Sampang.

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai kalangan, khususnya para lansia yang dengan semangat tinggi mengikuti gerakan senam yang dipandu oleh instruktur. Suasana pagi yang segar dan penuh semangat mempererat kebersamaan antar generasi, sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan terhadap gaya hidup sehat dan aktif di usia senja.

Dalam kesempatan tersebut, Umi Suhartini, selaku ketua Komunitas Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Sampang, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari upaya komunitas untuk terus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan, terutama bagi para lansia.

“Menjaga kesehatan itu penting agar kita bisa terus beraktivitas dan berbagi manfaat untuk lingkungan dan sesama. Jiwa yang sehat akan memengaruhi tubuh yang sehat pula. Jiwa sehat, raga sehat,” ujarnya penuh semangat.

Selain senam, kegiatan ini juga diselingi dengan edukasi ringan tentang penggunaan eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari untuk mendukung lingkungan yang lebih bersih dan sehat, serta pembagian minuman herbal alami sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan lansia.

Komunitas Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Sampang terus menunjukkan konsistensinya dalam menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, menjadikan momentum Hari Lansia Nasional ini sebagai bentuk apresiasi atas peran lansia dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Selamat Hari Lansia Nasional!
Terus sehat, terus semangat, terus menginspirasi!

Alun-alun yang Bising |  diantara Deru Mesin dan Suara Tangan Kecil yang Menengadah

Karcis Parkir yang diminta kembali

Alun-alun Trunojoyo Sampang, jantung kota yang seharusnya menjadi ruang napas bagi warga, kini kian sesak oleh riuh yang tak tertata. Bukan hanya tawa anak-anak yang berlarian mengejar balon sabun, atau aroma jagung bakar yang mengambang bersama angin sore. Ada yang mengusik, ada yang merampas kenyamanan yang dulu pernah hinggap di pelataran ini.

Setiap sudut seolah menjadi tambang liar. Sepeda motor bertumpuk tanpa urutan, memblokade jalur pejalan kaki. Parkir liar menjamur tanpa peduli garis batas, seolah trotoar adalah milik siapa cepat dia dapat. Petugas parkir dadakan bermunculan, lengkap dengan rompi lusuh dan peluit nyaring, karcis pun diminta kembali, kadang menuntut lebih dari sekadar duaribu. Pengunjung dipaksa memberi, bukan dengan rela, tapi karena tak ingin ribut, parkir berlangganan pun, kita disuruh untuk cekcok dengan petugas parkir, menyuruh untuk memfoto, baru mereka akan bertindak, ehhh bukannya mereka menertibkan, malah ingin kita ribut dulu, untuk apa mereka digaji???. Kota ini seperti lupa caranya menata, membiarkan semrawut menjadi pemandangan biasa.

Namun yang lebih menyayat dari deru knalpot adalah pandangan yang jatuh pada tangan-tangan kecil yang menengadah. Anak-anak, usia mereka belum seharusnya mengenal rasa malu karena menadahkan tangan, atau lelah karena berjalan dari satu bangku ke bangku lain. Mereka menggendong adik, mengenakan pakaian kusam, mata mereka tidak lagi berbinar, hanya penuh harap akan selembar dua ribu dari pengunjung yang mulai jengah.

Sesekali muncul badut dengan wajah kaku, mengejar-ngejar anak untuk dipaksa foto, atau pertunjukan topeng monyet yang kini terasa ganjil di tengah keramaian modern. Tapi yang paling mengganggu bukan lagi atraksinya, melainkan kehadiran mereka yang memaksa—mengusik ruang publik yang mestinya jadi tempat aman dan nyaman untuk sekadar melepas penat.

Pengemis kecil dan parkir liar, dua wajah dari masalah yang seakan tak disapa oleh kebijakan. Seperti simfoni sumbang yang terus dimainkan, mereka hadir karena celah yang dibiarkan terbuka. Dan kita, para pengunjung, kadang ikut menyumbang agar mereka pergi, padahal yang mereka butuhkan bukan receh, tapi perhatian. Bukan toleransi semu, tapi solusi nyata.

Sampang tak kekurangan semangat untuk berubah. Tapi selama alun-alun menjadi pasar liar dan anak-anak masih bekerja saat seharusnya bermain, kita sedang kehilangan makna dari kata “publik” dalam ruang publik.

Mungkin, saatnya kota berhenti menutup mata dan mulai mengatur. Bukan mengusir, tapi menata. Agar alun-alun kembali menjadi tempat bernafas, bukan hanya bagi tubuh, tapi juga bagi nurani.

Momentum Ini Akan Berakhir, Namun Cerita Tidak

Siswa & siswi SDN Rongtengah 4 Sampang

Di sudut kecil SDN Rongtengah 4 Sampang, ada sebuah kisah persahabatan yang sederhana namun penuh makna. Zahdhan dan sahabat-sahabatnya mungkin tidak menyadari bahwa waktu berlalu begitu cepat. Mereka yang dulu tertawa lepas di halaman sekolah, berebut mainan, atau saling mengejek karena “cinta monyet” yang polos, kini harus bersiap untuk berpisah.

Seperti kata pepatah, “Kita baru benar-benar merasakan arti seseorang saat akan kehilangan.” Sekarang, di penghujung masa kecil mereka, barulah terasa betapa berharganya setiap detik yang telah mereka lewati bersama. Zahdhan mungkin ingat bagaimana dia dan teman-temannya saling berebut jajanan di kantin, atau malu-malu saat nama mereka disebut bersamaan karena isu “gebetan” yang sebenarnya hanya bunga-bunga kecil di taman hati anak-anak.

Namun, waktu tak bisa diputar kembali. Mereka akan berjalan di jalan yang berbeda, membawa kenangan yang sama. Kelak, jika mereka bertemu lagi, mungkin akan tertawa mengingat betapa naifnya dulu—betapa indahnya masa ketika cinta masih sebatas pandangan diam-diam dan persahabatan adalah segalanya.

Momentum ini memang akan berakhir. Mereka tak lagi akan duduk di bangku yang sama, tak lagi saling menunggu di gerbang sekolah. Tapi, cerita mereka tidak akan pernah usai. Karena persahabatan sejati tidak mengenal jarak, dan kenangan indah akan selalu hidup di hati.

Selamat berpisah, Zahdhan dan sahabat-sahabatnya. Dunia menunggu kisah baru kalian. Tapi jangan lupa, di suatu tempat di Sampang, ada serpihan masa kecil yang selalu memanggil kalian untuk kembali—meski hanya dalam ingatan.

“Untuk 14 Cahaya yang Telah Mendahului: Doa dari Teman Seperjalanan”

Di antara rindangnya kenangan, mereka telah pergi lebih dulu—empat belas sahabat, empat belas cerita, empat belas bagian dari mozaik masa lalu yang tak tergantikan.

Hari itu, langit mungkin tak secerah dulu ketika kita masih berseragam putih-abu, berlarian di halaman sekolah, atau tertawa lepas di warung kopi usai ujian. Kini, nama-nama mereka terukir dalam doa yang dibisikkan oleh Ustad Oong dan Bapak Alim, suara yang sama yang dulu mungkin pernah menegur kita karena terlambat upacara atau tak mengumpulkan tugas.

“Semoga husnul khatimah…”

Kalimat pendek yang mengalir penuh makna, mengiringi perjalanan mereka menuju keabadian. Kita yang masih berdiri di sini, di antara debu waktu dan keriuhan dunia, tiba-tiba diingatkan: bahwa hidup hanyalah sebuah jeda sebelum kita semua pulang.

Mereka—yang mungkin dulu duduk di bangku belakang sambil menyembunyikan novel dari pelajaran matematika, yang selalu jadi andalan lari estafet, atau yang diam-diam menulis puisi di sudut kelas—kini telah menyelesaikan ujian terlebih dahulu. Kita hanya bisa mengirim doa, seperti melepas bunga yang hanyut di sungai, percaya bahwa arwah mereka akan sampai pada ketenangan yang dijanjikan.

“Alumni 2000 SMADA waktu terus berlari, tapi kenangan tak pernah usai.”

Di antara nama-nama yang disebut, mungkin ada sahabat yang dulu pernah berbagi bekal, teman sekelompok yang selalu andal saat kerja bakti, atau bahkan “musuh kecil” yang kini justru dirindukan. Kematian mengajarkan kita bahwa semua kesalahan manusia layak dimaafkan, semua kebahagiaan layak dikenang, dan semua air mata layak diteteskan.

Bapak Alim, dengan suaranya yang tenang namun berwibawa, memberikan pesan untuk mengingatkan kita bahwa kematian bukanlah akhir. Ia hanya pintu—seperti bel sekolah yang berbunyi tanda pergantian jam. Hanya, kali ini, mereka telah dipanggil lebih awal, sementara kita masih diberi kesempatan untuk melanjutkan pelajaran hidup, semoga kita semua termasuk penghuni surga, di-Aminkan oleh guru dan alumni SMADA.

Mari kita ikhlaskan, tapi jangan lupakan. Mari kita doakan, sambil berjanji untuk menjalani sisa hari dengan lebih bijak. Sebab, suatu saat nanti, kita semua akan bertemu lagi—di suatu tempat di mana tidak ada lagi perpisahan.

Selamat jalan, sahabat. Semoga Allah SWT melapangkan kuburmu, menerima amalmu, dan menempatkanmu di antara orang-orang yang dirindukan surga.

Kita yang tersisa, hanya bisa berjanji: akan terus mengirim doa, meski hanya lewat angin yang berhembus di antara dahan-dahan rindu.

Untuk Empat Belas Cahaya SMADA 2000, yang abadi dalam kenangan.

Temuh Kerong: Sebuah Pertemuan yang Menghidupkan Rindu

Ada yang retak dalam diam-diam waktu. Lalu, kita berkumpul lagi—dengan nama Temuh Kerong—sebuah upaya kecil untuk menjahit kembali kenangan yang mulai pudar. Di Rumah Makan Mahkota, Taddan Sampang, pada Minggu yang sunyi, 4 Mei 2025, kita duduk bersama, mencoba mengingat wajah-wajah yang dulu saling mengenal dengan mudah.

Temuh kerong SMADA 2000

Azizah, atau Ica, mengumpulkan kita seperti seorang penjaga memori. Empat guru hadir—Ibu Lely, Ibu Hos, Ibu Yayak, Bapak Alim—dengan senyum yang masih sama, meski keriput di sudut mata mereka bercerita tentang tahun-tahun yang telah pergi. Kita menyanyikan Indonesia Raya dengan suara yang mungkin tak lagi sekeras dulu, tapi getarnya masih menggema di ruang hati yang sama.

Sambutan-sambutan mengalir seperti air mata yang tak sempat tumpah. Klebun Faruk bicara tentang harapan, tentang pertemuan-pertemuan lain yang mungkin terjadi. Tapi di balik kata-katanya, ada pertanyaan yang tak terucap: berapa lama lagi kita bisa bertemu seperti ini?

Lalu, kita berdoa untuk mereka yang sudah pergi lebih dulu. Nama-nama yang tak lagi bisa hadir, tapi tetap hidup dalam ingatan. Di sana, dalam hening yang pekat, kita menyadari bahwa Temuh Kerong ini bukan hanya tentang yang hadir, tapi juga tentang yang hilang. Tentang bagaimana waktu mengikis kita sedikit demi sedikit, dan pertemuan semacam ini adalah cara kita melawan lupa.

Faruk, Oong, Gaffar, Furkon, dan yang lain—mereka menyumbang bukan hanya uang, tapi juga secercah kesetiaan pada kenangan. Kita tertawa, bercerita, berpura-pura bahwa waktu tidak bergerak. Tapi di sudut-sudut ruangan, ada bayangan masa lalu yang bergerak pelan, mengingatkan kita bahwa yang tersisa hanyalah sisa-sisa.

Di akhir, Klebun Faruk berharap agar tahun depan bisa bertemu lagi, dengan lebih banyak orang, lebih meriah. Tapi kita tahu—setiap Temuh Kerong adalah hadiah. Sebab, yang kita rayakan bukan hanya pertemuan, tapi juga kesadaran bahwa suatu hari nanti, mungkin ada yang tak lagi bisa datang.

Maka kita pun pulang, membawa rindu yang baru, sambil berbisik dalam hati:
“Sampai jumpa lagi—jika waktu mengizinkan.”

~ Untuk semua yang pernah hadir, dan semua yang tinggal kenangan.

“Azizah ‘Ice’: Kartini Masa Kini yang Menyatukan Kenangan di Temuh Kerong”

Icha Azis

Di antara gemuruh zaman yang kian menggerus ikatan, ada sosok perempuan yang teguh merajut benang-benang silaturahmi yang nyaris terputus. Ia adalah Azizah, akrab disapa Ice—seorang Kartini masa kini yang tak hanya bermimpi, tetapi terjun ke lapangan dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Di balik kesederhanaannya, ia menyimpan tekad baja: menyatukan kembali serpihan-serpihan kenangan angkatan 2000 SMADA 2 dalam sebuah acara bertajuk Temuh Kerong (Temu Kangen).

Minggu 4 Mei 2025, pukul 09.00 WIB, Rumah Makan Mahkota Taddan Sampang akan menjadi saksi bisu reuninya para pejuang masa lalu. Di sana, tawa yang lama tersimpan akan kembali pecah, pelukan yang tertunda akhirnya terurai, dan cerita-cerita yang terpendam akan mengalir seperti air. Semua itu terwujud karena satu perempuan dengan komunitas Icha Lover-nya tak kenal lelah: menghubungi donatur, mengumpulkan teman-teman yang sudah berpencar, bahkan mengundang guru-guru tercinta yang dulu menjadi lentera di jalan mereka.

“Usaha tidak mengkhianati hasil,” begitulah pepatah lama berbunyi. Dan Ice adalah bukti nyatanya. Dengan kesabaran dan ketulusan, ia merangkul satu per satu, meyakinkan bahwa pertemuan ini bukan sekadar acara, melainkan pulangnya ruh kebersamaan yang sempat hilang. Tak heran jika di mata teman-temannya, ia selalu menarik—bukan karena gemerlap dunia, melainkan karena keteguhannya mengukir makna dalam kesederhanaan.

Guru-guru pun tersentuh, datang bukan karena paksaan, tapi karena ingat akan sosok-sosok seperti Ice yang membuat mereka bangga pernah mengajar. Di sini, di antara hidangan dan canda, Kartini masa kini itu tak perlu bicara besar. Cukup dengan senyumnya, ia telah menyalakan kembali obor yang sempat redup.

Esok, Mahkota Taddan bukan sekadar rumah makan. Ia akan menjadi istana kenangan, tempat di mana waktu berhenti sejenak, dan Ice—dengan segala upayanya—menjadi ratu yang mempersembahkan mahkota kebersamaan untuk mereka semua.

“Karena pertemuan bukan tentang tempat atau waktu, tapi tentang siapa yang mau mengulurkan tangan terlebih dahulu.”

Dan Ice telah melakukannya.

#TemuhKerong2000 #KartiniMasaKini #IceTheUnifier

Dua Wajah Pesantren: Ketika Nurani Tersandung Monopoli

Di suatu sudut Jawa Timur, di antara gemericik sungai dan desir daun kelapa, Pondok Pesantren Bumi Sholawat berdiri seperti oase. Tak hanya menebar ilmu agama, ia menjadi denyut nadi perekonomian warga sekitar. Laundry yang dikelola ibu-ibu, tukang bersih-bersih yang mendapat upah layak, warung-warung kecil yang menjajakan kudapan untuk santri—semua bersimbiosis mutualisme. Pesantren ini bukan sekadar bangunan, melainkan organ hidup yang bernapas bersama masyarakat.

Namun, di belahan lain, di tanah Sampang, ada cerita yang tertahan di tenggorokan. Sebuah pesantren besar berdiri megah, tetapi dingin. Pagarnya tinggi, gerbangnya terkunci rapat, bukan hanya bagi orang asing, tapi juga bagi harapan warga sekitar. Warung-warung milik keluarga pemilik tumbuh subur, sementara lapak-lapak penduduk setempat merana. Tenaga kerja dari luar didatangkan, sementara tetangga yang menganggur hanya bisa memandang dari kejauhan.

Gesekan pun lahir tanpa suara. Seperti api dalam sekam, kecil tapi cukup untuk membakar hati. “Mengapa kami diabaikan?” bisik seorang penjual gorengan yang lapaknya sepi. “Bukankah pesantren ini juga berdiri di tanah kami?” tanya seorang pemuda yang ditolak kerja karena bukan bagian dari “keluarga”.

Monopoli yang tak disadari—atau mungkin diabaikan—telah mengubah pesantren dari mercusuar umat menjadi menara gading. Padahal, Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Lantas, di mana letak manfaat jika tetangga terdekat justru terpinggirkan?

Pesantren bukanlah kerajaan bisnis. Ia seharusnya menjadi tangan yang mengangkat, bukan menindas. Bumi Sholawat membuktikan bahwa kemakmuran bisa diraih bersama. Sementara di Sampang, ada pelajaran pahit: bahwa menara ilmu tak boleh menjulang di atas puing-puing kepekaan sosial.

Mungkin sudah waktunya untuk bertanya: Apakah kita membangun pesantren untuk umat, atau justru mengucilkan umat demi pesantren?

Temu Kangen Alumni SMAN 2 Sampang: Bersatu dalam Kenangan, Bergerak untuk Silaturahmi

Icha & para donatur

Sampang – Dalam semangat mempererat tali silaturahmi dan mengenang masa-masa indah di bangku sekolah, alumni SMAN 2 Sampang tengah mempersiapkan acara Temu Kangen atau yang lebih akrab disebut Temuh Kerong. Kegiatan ini digagas dan dikomandani oleh sosok energik yang dikenal luas di kalangan alumni, Icha Azis, atau yang kerap disapa “Icha Lover”.

Persiapan kegiatan ini berlangsung hangat dan penuh semangat di warung kopi Maksideh, tempat berkumpulnya beberapa alumni yang kini telah sukses di bidang masing-masing. Dalam suasana penuh nostalgia, para alumni tak hanya berbagi cerita, tetapi juga turut berkontribusi nyata untuk merealisasikan acara tersebut.

Sejumlah donatur yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan dukungan luar biasa. Di antaranya adalah Faruk, seorang kepala desa yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial, Gaffar yang kini menjabat sebagai kepala sekolah, Subaidi sang pengusaha sukses, serta tokoh agama Ustad Oong dan Holiliur. Mereka adalah deretan alumni yang tak hanya hadir dengan semangat, tetapi juga dengan komitmen untuk menyokong dana kegiatan temu kangen ini.

Acara ini direncanakan tidak hanya menjadi ajang reuni biasa. Panitia berencana untuk mengundang para guru serta wali kelas yang pernah membimbing dan membentuk karakter para alumni. “Kami ingin memberikan apresiasi kepada para guru yang telah berjasa besar dalam perjalanan hidup kami. Ini bentuk kecil dari rasa hormat dan cinta kami kepada mereka,” ungkap Icha Azis.

Icha Azis menyampaikan rasa optimisnya terhadap kelancaran acara ini. “Dengan kebersamaan, dukungan moril dan materiil dari semua pihak, terutama dari para penyokong dana, saya yakin kegiatan ini bisa sukses dan berjalan lancar,” tegasnya.

Kegiatan Temuh Kerong ini bukan hanya tentang bertemu kembali dengan teman-teman lama, tetapi juga sebagai wadah memperkuat jaringan antaralumni yang kini tersebar di berbagai bidang. Harapannya, acara ini bisa menjadi titik awal untuk kolaborasi positif yang lebih luas di masa depan.

Dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap almamater, para alumni SMAN 2 Sampang membuktikan bahwa kenangan masa lalu bisa menjadi jembatan untuk membangun masa depan yang lebih solid dan bersahabat.

Tangis dan Harapan di Sudut Pajudan: Yuyun Bugar Gym Studi6 Ajak Ibu Masni’ah Menemukan Teduh di Hari Tua

Ibu Sani’ah & Yuyun Bugar Gym

SAMPANG – Di lorong sempit kawasan Pajudan, Sampang, hidup seorang ibu renta bernama Masni’ah. Usianya senja, tubuhnya lemah, dan rumahnya bukan rumah dalam pengertian sesungguhnya beralaskan tanah, berdinding seadanya, dan beratapkan seng yang sudah mulai keropos. Ia tinggal di atas tanah orang, dengan perabotan yang hanya sekadar cukup untuk bertahan hidup. Namun dari sudut sederhana itulah, kisah penuh haru ini bermula.

Yuyun, pemilik Bugar Gym Studi6 yang dikenal sebagai sosok berhati lembut di balik semangat kebugaran jasmani, mendengar kabar tentang kondisi Ibu Sani’ah. Ia datang bukan sebagai dermawan yang ingin sekadar memberi, melainkan sebagai manusia yang ingin berbagi rasa. Bersama sedikit bekal yang dibawanya, Yuyun duduk bersimpuh, menyuapi Ibu Masni’ah dengan tangan sendiri. Ada genangan air mata di matanya, bahkan tangis sempat pecah ketika mereka saling bertatapan dua perempuan dari dunia yang berbeda namun dipertemukan oleh cinta kasih dan nurani.

Dalam pertemuan itu, Yuyun menyampaikan niat tulusnya untuk membawa Ibu Masni’ah ke Griya Lansia di Malang. Tempat itu bukan sekadar penampungan, melainkan rumah kedua bagi mereka yang telah mengarungi panjangnya hidup. Di sana, Ibu Sani’ah tak hanya akan mendapatkan perawatan, tetapi juga teman-teman sebaya untuk berbagi kisah dan tawa, sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini.

Namun, tak semua kisah haru berujung mudah. Ibu Masni’ah belum bisa memberikan jawaban pasti. Matanya berkaca, tangannya gemetar, dan suaranya nyaris tak terdengar. Bukan karena tak ingin, tapi karena hatinya masih tertambat pada satu hal: tetangga depan rumahnya yang selama ini sesekali menjenguk dan menjaganya.

“Masih ada yang nengok, Umi (panggilan ke Yuyun, kadang nanya kabar, kadang kasih lauk,” katanya lirih.

Yuyun tidak memaksa. Ia paham, bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tapi tempat hati menetap. Meski tanah itu bukan miliknya, meski atapnya bocor, Ibu Sani’ah sudah mengakar di sana pada kenangan, pada tetangga yang mungkin jadi satu-satunya pengikat dengan dunia luar.

Perjalanan ini mungkin belum berakhir. Tapi siang itu, di tanah yang lembab dan sunyi itu, tumbuh harapan baru. Harapan bahwa di ujung usia, ada seseorang yang peduli. Dan mungkin, suatu saat nanti, Ibu Sani’ah akan menerima uluran tangan Yuyun. Bukan karena iba, tapi karena ia percaya, bahwa hidup tak pernah benar-benar sendiri.