
Sampang – Dalam semilir angin pagi yang menyapa lembut gubuk kecil beratap seng di sudut Kabupaten Sampang, dua sosok perempuan tangguh menapakkan langkah penuh kasih. Umi Har dan Mbak Yuyun, perwakilan Komunitas Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Sampang, mengunjungi Ibu Sani’ah—seorang perempuan renta yang hidup sebatang kara, tanpa sanak keluarga, dalam gubuk gedek sederhana yang lebih banyak dihuni sunyi daripada suara tawa.
Kunjungan ini bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan gema makna dari dua peringatan yang begitu sakral: Hari Kartini dan Hari Bumi. Dengan membawa semangat hijau dan jiwa perjuangan perempuan, Umi Har dan Mbak Yuyun melakukan penyemprotan Eco Enzyme di lingkungan sekitar gubuk Ibu Sani’ah. Tak hanya itu, mereka juga menyerahkan bantuan sebagai bentuk kasih sayang dan solidaritas.
“Ini bukan tentang seberapa besar bantuan yang kami bawa, tapi tentang hadirnya cinta, kepedulian, dan harapan,” tutur Umi Har sambil menggenggam tangan Ibu Sani’ah yang keriput namun hangat. “Kami ingin membawa semangat Kartini ke tengah kehidupan nyata, perempuan yang tak hanya bicara, tapi bergerak dan memberi.”
Mbak Yuyun menambahkan, “Hari Bumi mengajarkan kita untuk merawat alam, dan Hari Kartini mengajarkan kita untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan. Kami memadukan keduanya dalam langkah kecil ini, semoga bisa menyentuh hati banyak orang.”
Kisah Umi Har dan Mbak Yuyun menjadi cermin bahwa semangat Kartini tak pernah padam. Ia tumbuh dalam bentuk keberanian baru: menyapa mereka yang terlupakan, menyemai cinta di tanah yang tandus, dan menyebarkan harapan di tempat yang kering akan perhatian.
Ibu Sani’ah menatap mereka dengan mata berkaca, “Aku kira hidupku sudah tak dilihat siapa-siapa. Tapi hari ini aku merasa seperti punya keluarga lagi.”
Dalam setiap tetes Eco Enzyme yang disemprotkan, tersirat harapan akan bumi yang lebih sehat. Dan dalam setiap pelukan yang diberikan, mengalir kekuatan perempuan untuk tetap berdiri, bahkan saat dunia tampak menjauh.
Inilah Kartini masa kini bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan jiwa yang hidup dalam tindakan. Umi Har dan Mbak Yuyun mengajak kita semua, terutama para perempuan, untuk menjadi cahaya, meski hanya setitik di tengah gelap.
Karena sejatinya, hidup adalah perjuangan. Dan perempuan, sejak dulu hingga kini, adalah pejuang.
















