Perempuan Tangguh di Hari Kartini dan Hari Bumi: Langkah Kecil, Makna Besar dari Umi Har dan Mbak Yuyun

Ibu Sani’ah – Mbak Yuyun – Umi Har

Sampang – Dalam semilir angin pagi yang menyapa lembut gubuk kecil beratap seng di sudut Kabupaten Sampang, dua sosok perempuan tangguh menapakkan langkah penuh kasih. Umi Har dan Mbak Yuyun, perwakilan Komunitas Eco Enzyme Nusantara Kabupaten Sampang, mengunjungi Ibu Sani’ah—seorang perempuan renta yang hidup sebatang kara, tanpa sanak keluarga, dalam gubuk gedek sederhana yang lebih banyak dihuni sunyi daripada suara tawa.

Kunjungan ini bukan sekadar rutinitas sosial, melainkan gema makna dari dua peringatan yang begitu sakral: Hari Kartini dan Hari Bumi. Dengan membawa semangat hijau dan jiwa perjuangan perempuan, Umi Har dan Mbak Yuyun melakukan penyemprotan Eco Enzyme di lingkungan sekitar gubuk Ibu Sani’ah. Tak hanya itu, mereka juga menyerahkan bantuan sebagai bentuk kasih sayang dan solidaritas.

“Ini bukan tentang seberapa besar bantuan yang kami bawa, tapi tentang hadirnya cinta, kepedulian, dan harapan,” tutur Umi Har sambil menggenggam tangan Ibu Sani’ah yang keriput namun hangat. “Kami ingin membawa semangat Kartini ke tengah kehidupan nyata, perempuan yang tak hanya bicara, tapi bergerak dan memberi.”

Mbak Yuyun menambahkan, “Hari Bumi mengajarkan kita untuk merawat alam, dan Hari Kartini mengajarkan kita untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan. Kami memadukan keduanya dalam langkah kecil ini, semoga bisa menyentuh hati banyak orang.”

Kisah Umi Har dan Mbak Yuyun menjadi cermin bahwa semangat Kartini tak pernah padam. Ia tumbuh dalam bentuk keberanian baru: menyapa mereka yang terlupakan, menyemai cinta di tanah yang tandus, dan menyebarkan harapan di tempat yang kering akan perhatian.

Ibu Sani’ah menatap mereka dengan mata berkaca, “Aku kira hidupku sudah tak dilihat siapa-siapa. Tapi hari ini aku merasa seperti punya keluarga lagi.”

Dalam setiap tetes Eco Enzyme yang disemprotkan, tersirat harapan akan bumi yang lebih sehat. Dan dalam setiap pelukan yang diberikan, mengalir kekuatan perempuan untuk tetap berdiri, bahkan saat dunia tampak menjauh.

Inilah Kartini masa kini bukan sekadar nama dalam buku sejarah, melainkan jiwa yang hidup dalam tindakan. Umi Har dan Mbak Yuyun mengajak kita semua, terutama para perempuan, untuk menjadi cahaya, meski hanya setitik di tengah gelap.

Karena sejatinya, hidup adalah perjuangan. Dan perempuan, sejak dulu hingga kini, adalah pejuang.

Berikut adalah curriculum vitae dalam bentuk artikel untuk Azahy Afdhal Shambala Ramadhan:

Zahdhan

Biodata Zahdhan

Azahy Afdhal Shambala Ramadhan, yang akrab disapa Zahdhan, adalah seorang siswa muda berbakat asal Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Lahir pada tanggal 30 Maret 2015 di Sampang, Zahdhan kini bersekolah di SDN Rongtengah 4 Sampang, yang beralamat di Jalan Bahagia, Sampang, Jawa Timur. Ia tinggal bersama keluarganya di Jalan Rajawali II, Sampang.

Sejak dini, Zahdhan menunjukkan semangat belajar dan kedisiplinan yang tinggi, tidak hanya dalam pendidikan formal, tetapi juga dalam kegiatan ekstrakurikuler. Di luar sekolah, ia aktif mengikuti latihan karate di bawah naungan INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Cabang Gunong Sekar Sampang, dan kini telah mencapai tingkat Kyu 2, yang menunjukkan kemajuan teknik dan ketekunannya dalam dunia bela diri.

Dedikasi Zahdhan dalam dunia karate telah membuahkan berbagai prestasi membanggakan, di antaranya:

  • Juara 2 O2SN Tingkat Kabupaten pada tahun 2022
  • Juara 2 O2SN Tingkat Kabupaten pada tahun 2023
  • Juara 2 Piala Panglima TNI tahun 2024
  • Juara 2 Kumite Open Tingkat Nasional dalam ajang Brawijaya University Championship 2024
  • Juara 1 Kumite Festival Tingkat Nasional dalam ajang Brawijaya University Championship 2024

Dengan semangat juang tinggi dan prestasi yang terus berkembang, Zahdhan menjadi inspirasi bagi banyak teman sebayanya. Ia bercita-cita untuk terus mengasah kemampuan, baik di bidang akademik maupun olahraga bela diri, sebagai bentuk kontribusi positif untuk dirinya dan masa depan daerahnya.

Untuk informasi lebih lanjut, Zahdhan dapat dihubungi melalui:

Selamat Jalan, Ibu Mamik Sugiarti: Sebuah Lembar Rindu untuk Pejuang Lingkungan dari Sampang

Matahari pagi di Sampang mungkin tak lagi sama. Udara yang biasanya basah oleh semangat seorang perempuan tangguh, kini terasa lebih sunyi. Ibu Mamik Sugiarti sosok yang tak kenal lelah dalam komunitas Eco Enzyme Sampang telah berpulang, meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang tak akan lapuk oleh waktu.

Beliau bukan sekadar nama. Ia adalah tangan yang selalu terentang, mengolah sampah menjadi berkah, mengubah yang terbuang menjadi harapan. Di tengah gempita modernisasi yang kerap melupakan bumi, Ibu Mamik berdiri di garis depan, dengan senyum tulus dan tekad baja, membuktikan bahwa cinta pada lingkungan adalah juga cinta pada sesama.

Setiap tetes eco enzyme yang ia olah adalah doa. Setiap pelatihan yang ia berikan adalah benih. Dan setiap senyum yang ia tebarkan adalah cahaya kecil, tetapi cukup untuk menerangi sudut-sudut gelap ketidakpedulian. Kini, ketika langkahnya telah berlabuh pada keabadian, kita yang tersisa hanya bisa memunguti warisannya: bahwa hidup bukan tentang seberapa panjang, melainkan seberapa dalam ia memberi arti.

Mungkin alam sedang merindukan seorang pejuang. Mungkin langit membutuhkan lebih banyak bintang. Tapi kita di sini, di bumi yang pernah ia sentuh, akan terus melanjutkan perjalanannya menyuburkan yang gersang, merawat yang terlupakan, seperti Ibu Mamik ajarkan.

Selamat jalan, Ibu. Terima kasih untuk setiap tetes keringat, untuk setiap kata semangat, dan untuk cinta yang tak pernah berhitung. Tenanglah, kami akan menjaga bumi yang kau cintai ini.

“Tak semua pahlawan memakai jubah. Ada yang hanya membawa ember berisi eco enzyme, lalu mengubah dunia dari halaman rumahnya sendiri.”

Damai di sisi-Nya, Ibu Mamik Sugiarti (1962–2025).

“Zahdhan Sang Karate-Do: Menaklukkan Bahasa Inggris Seperti Menaklukkan Sabuk Coklat”

Zahdhan Karate-do

Di sudut kamar yang sederhana, seragam karate putih-coklat tergantung rapi di balik pintu. Di sebelahnya, ransel sekolah SD yang sudah mulai usang oleh waktu. Dua benda ini menjadi saksi bisu perjalanan Zahdhan, sang petarung kecil yang sebentar lagi akan menginjakkan kaki di medan laga baru: Kampung Inggris Pare.

Disiplin Sabuk Coklat, Semangat Pantang Menyerah

Sejak usia 8 tahun, Zahdhan sudah mengenal kerasnya tatami (matras karate). Setiap sore, Langkahnya menuju dojo, tempat ia belajar bahwa “kalah” dan “menyerah” adalah dua hal yang berbeda. Sabuk coklat INKAI yang ia dapatkan bukan hadiah, melainkan bukti dari peluh, darah, dan air mata yang ia teteskan di setiap latihan.

Kini, di usia 12 tahun, Zahdhan akan menghadapi lawan baru: Bahasa Inggris. Bagi sebagian anak, bahasa ini seperti jurus yang sulit dikuasai. Tapi bagi Zahdhan, ini hanyalah tantangan lain yang harus ia taklukkan—seperti dulu ia menaklukkan ketakutan saat pertama kali ikut kejuaraan karate.

Pare: Medan Laga Tanpa Tendangan, tapi Penuh Strategi

Kami memilih Brilian Course, milik Mr. Abie, karena tempat ini seperti dojo bahasa—disiplin, fokus, dan penuh semangat. Zahdhan akan tinggal di asrama, jauh dari kami, tapi kami yakin: jiwa karateka-nya akan membantunya bertahan.

“Di karate, kau tak boleh mundur hanya karena lelah,” begitu pesan sensei-nya. Prinsip itu yang akan ia bawa ke Pare. Setiap kata baru adalah seperti pukulan yang harus ia hafalkan. Setiap grammar adalah seperti kuda-kuda yang harus ia kuasai. Dan saat ujian tiba, ia akan menghadapinya seperti menghadapi ujian kenaikan sabuk—dengan persiapan matang dan hati yang tenang.

Doa Seorang Ibu untuk Sang Petarung

“Zahdhan, anakku…
Kau pernah pulang dengan lebam di kaki setelah latihan, tapi kau tersenyum karena berhasil menguasai kata. Kau pernah menangis saat kalah di turnamen, tapi bangkit lebih kuat. Kini, saat kau pergi ke Pare, ingatlah:

  • Kosakata adalah seperti jurus—harus diulang sampai otot lidahmu hafal.
  • Grammar adalah seperti kihon—dasar yang harus kuat sebelum melompat tinggi.
  • Dan rasa rindu padaku? Itu adalah seperti mawashi geri—terkadang menyakitkan, tapi akan membuatmu lebih tangguh.”

Kami tak memintamu juara. Kami hanya ingin kau mencoba, seperti dulu kau mencoba pertama kali memakai seragam karate. Selamat bertualang, sang petarung bahasa!

—Osu!— 🥋


“Karate-do bukan hanya seni bela diri. Ia adalah seni hidup.”
Dan Zahdhan? Ia sedang menulis hidupnya dengan cara terbaik: berani mencoba.

“Baperan: Luka yang Kita Ciptakan Sendiri”

Pernahkah kau duduk termenung, menunggu sebuah balasan yang tak kunjung datang? Atau merasakan getirnya hati saat harapanmu tak seindah kenyataan?

Baper—bawa perasaan—seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia bukti kita masih manusia, masih bisa merasa. Di sisi lain, ia bisa menjadi racun jika kita terus meminumnya.

Baper Itu Seperti…

  • Menyiram bunga dengan air laut. Semakin kau berharap, semakin layu hatimu.
  • Memaksa matahari terbit di barat. Alam punya jalannya sendiri, begitu pula manusia.
  • Menulis surat untuk angin. Kau tahu ia tak akan membacanya, tapi kau tetap menulis.

Kenapa Kita Terlalu Sakit Saat Baper?

Karena kita sering kali:

  1. Mengukir ekspektasi di batu, tapi menulis realitas di pasir.
    Yang satu mengeras, yang lain mudah hilang tertiup waktu.
  2. Meminta bulan untuk tetap bersinar di siang hari.
    Padahal, ia punya saatnya sendiri. Begitu juga orang-orang di sekitar kita.
  3. Menjadi tawanan pikiran sendiri.
    Kita mengurung diri dalam penjara “seandainya” dan “mungkin”.

Bagaimana Melepaskannya?

  • Pahami bahwa tidak semua yang terbang akan kembali.
    Ada pesan yang sengaja dibiarkan tenggelam, ada orang yang memang harus pergi.
  • Jadikan hatimu seperti sungai.
    Biarkan yang lalu mengalir, jangan ditampung sampai keruh.
  • Belajar mencintai tanpa syarat.
    Beri tanpa menuntut balik, sayang tanpa memaksa.

Baper itu seperti hujan. Wajar jika sesekali turun, tapi jangan biarkan ia banjiri seluruh hidupmu.

Kadang, yang perlu kau lakukan hanyalah…
Bernapas. Melepaskan. Dan berjalan lagi.

Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang: Peduli Lingkungan dan Berbagi kepada Kaum Duafa Menjelang Lebaran

SAMPANG – Menyambut Hari Air Sedunia dan dalam semangat berbagi menjelang Lebaran, Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang yang dipimpin oleh Hj. Suhartini tidak hanya melakukan aksi pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan bantuan kepada kaum duafa sebagai bentuk kepedulian sosial. Gabungan antara gerakan lingkungan dan kemanusiaan ini menunjukkan bahwa menjaga alam dan membantu sesama adalah dua hal yang tidak terpisahkan.

Eco Enzyme untuk Sungai yang Lebih Bersih

Dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, komunitas ini melakukan aksi nyata dengan menuangkan eco enzyme ke sungai di Sampang. Eco enzyme, hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, memiliki manfaat besar dalam menetralisir polutan air, mengurangi bau tidak sedap, serta mendukung ekosistem perairan yang sehat.

“Kami ingin mengajak masyarakat melihat bahwa sampah organik bisa menjadi berkah jika diolah dengan benar. Eco enzyme tidak hanya membersihkan sungai, tetapi juga mengurangi limbah rumah tangga,” ujar Hj. Suhartini.

Bantuan untuk Kaum Duafa: Berbagi Kebahagiaan Menjelang Lebaran

Tak hanya fokus pada lingkungan, komunitas ini juga memperlihatkan kepeduliannya terhadap sesama dengan memberikan bantuan sembako dan kebutuhan pokok kepada keluarga kurang mampu. Bantuan ini disalurkan sebagai bentuk dukungan moral dan material menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Lebaran adalah momen kebahagiaan bagi semua, termasuk mereka yang membutuhkan. Kami ingin meringankan beban saudara-saudara kita agar mereka juga bisa merayakan Lebaran dengan penuh suka cita,” tutur salah satu relawan komunitas.

Semangat Ibu-Ibu dan Nenek-Nenek yang Menginspirasi

Aksi ini semakin istimewa karena digerakkan oleh para ibu dan nenek yang dengan semangat tinggi membagi waktu antara menyiapkan Lebaran dan berkontribusi untuk lingkungan serta sesama.

“Meski sibuk memasak dan bersih-bersih rumah, kami tetap meluangkan waktu untuk kegiatan positif seperti ini. Merawat bumi dan berbagi kepada yang membutuhkan adalah bagian dari ibadah,” ungkap seorang anggota komunitas.

Ajakan untuk Kolaborasi Lingkungan dan Sosial

Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang berharap kegiatan mereka dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut serta dalam gerakan serupa. Mereka mendorong masyarakat untuk:

  1. Mengolah sampah organik menjadi eco enzyme di rumah.
  2. Tidak mencemari sungai dengan limbah rumah tangga.
  3. Peduli terhadap lingkungan dan sesama, terutama di momen-momen penting seperti Lebaran.

“Kami percaya, ketika alam bersih dan masyarakat sejahtera, kebahagiaan akan lebih terasa. Mari bersama-sama menciptakan Sampang yang lebih hijau dan penuh kasih,” pesan Hj. Suhartini.

Aksi nyata komunitas ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap alam dan manusia bisa berjalan beriringan. Di tengah euforia Lebaran, semangat mereka patut diteladani sebagai bentuk keseimbangan antara ibadah, lingkungan, dan kemanusiaan.

#EcoEnzyme #HariAirSedunia #PeduliLingkungan #BerbagiKebaikan #LebaranBermakna #SampangPeduli

Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang: Semangat Peduli Lingkungan Menjelang Lebaran

SAMPANG – Memperingati Hari Air Sedunia, Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang yang dipimpin oleh Hj. Suhartini menunjukkan aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan dengan menuangkan eco enzyme ke sungai. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan ekosistem perairan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat agar terus menjaga kelestarian alam.

Eco Enzyme untuk Sungai yang Lebih Sehat

Eco enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik (seperti kulit buah dan sayuran) yang memiliki banyak manfaat, termasuk membersihkan polutan di air, mengurangi bau tidak sedap, dan menyeimbangkan ekosistem sungai. Aksi yang dilakukan oleh Hj. Suhartini dan para anggota komunitas ini menjadi bukti bahwa sampah organik bisa diubah menjadi solusi lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa dengan kemandirian dan semangat gotong royong, kita bisa berkontribusi untuk alam. Menuangkan eco enzyme ke sungai adalah langkah kecil yang berdampak besar,” ujar Hj. Suhartini.

Semangat Ibu dan Nenek yang Patut Dicontoh

Yang membuat kegiatan ini semakin menginspirasi adalah semangat para anggota komunitas yang didominasi oleh ibu-ibu dan nenek-nenek. Meski tengah sibuk mempersiapkan Lebaran, mereka tetap meluangkan waktu untuk aksi lingkungan.

“Walau sedang sibuk menyiapkan hidangan Lebaran, kami tidak lupa untuk menjaga alam. Ini adalah bentuk ibadah kita kepada Tuhan dan tanggung jawab kita kepada generasi mendatang,” tutur salah satu anggota komunitas.

Ajakan untuk Selalu Peduli Lingkungan

Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang berharap aksi mereka bisa menggerakkan lebih banyak orang untuk memanfaatkan sampah organik menjadi eco enzyme. Mereka juga mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai.

“Kami ingin sungai di Sampang bebas dari polusi dan kembali jernih. Mari bersama-sama menjaga alam, dimulai dari hal kecil di rumah masing-masing,” pesan Hj. Suhartini.

Aksi ini membuktikan bahwa kepedulian lingkungan tidak mengenal usia dan waktu. Di tengah kesibukan menyambut Lebaran, semangat para ibu dan nenek di Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang patut dijadikan contoh untuk terus berkontribusi bagi bumi yang lebih hijau.

#EcoEnzyme #HariAirSedunia #PeduliLingkungan #SampangHijau #LebaranRamahLingkungan

Dari Sampah Menjadi Berkah: Perjuangan Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin modern, ada secercah harapan yang tumbuh dari sebuah komunitas kecil di Sampang. Mereka adalah para ibu-ibu dan nenek-nenek yang dengan tangan lembut namun penuh tekad, berjuang untuk merawat bumi dan alam lingkungan. Mereka adalah bagian dari Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang, sebuah gerakan yang mengajarkan kita tentang arti kepedulian dan pengabdian tanpa batas untuk kemanusiaan.

Eco enzyme, sebuah cairan ajaib hasil fermentasi limbah organik, menjadi simbol perjuangan mereka. Cairan ini tidak hanya membantu mengurangi sampah rumah tangga, tetapi juga memiliki manfaat luar biasa bagi lingkungan, seperti menyuburkan tanah, membersihkan air, dan bahkan mengurangi polusi udara. Namun, lebih dari sekadar produk, eco enzyme adalah bukti nyata dari cinta dan dedikasi mereka terhadap bumi.

Setiap hari, dengan penuh semangat, para ibu dan nenek ini mengumpulkan sisa-sisa buah dan sayuran dari dapur mereka. Mereka memotong, menimbang, dan mencampurkan bahan-bahan tersebut dengan gula dan air, lalu menyimpannya dalam wadah-wadah besar. Proses ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian, karena eco enzyme memerlukan waktu fermentasi selama tiga bulan sebelum dapat digunakan. Namun, bagi mereka, ini bukanlah beban, melainkan sebuah ibadah. Sebuah cara untuk berbakti kepada alam dan manusia.

Mereka tidak hanya membuat eco enzyme untuk diri sendiri, tetapi juga membagikannya kepada tetangga, teman, dan siapa pun yang membutuhkan. Dengan senyum tulus, mereka mengajarkan cara membuat dan menggunakan eco enzyme kepada siapa saja yang ingin belajar. Mereka percaya bahwa setiap tetes eco enzyme yang mereka hasilkan adalah sebuah doa untuk bumi yang lebih baik.

Komunitas ini juga aktif mengadakan workshop dan sosialisasi tentang pentingnya menjaga lingkungan. Mereka tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga menunjukkan aksi nyata. Dengan tangan mereka sendiri, mereka membersihkan sungai, menanam pohon, dan mengolah sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Mereka adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.

Dalam setiap kegiatan mereka, terlihat jelas betapa kuatnya semangat gotong royong dan kebersamaan. Mereka tidak peduli dengan usia atau latar belakang. Yang penting adalah niat baik dan keinginan untuk berkontribusi. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang bekerja tanpa pamrih untuk kemanusiaan dan bumi.

Kisah Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang mengingatkan kita bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak harus datang dari orang-orang besar atau teknologi canggih. Kadang-kadang, justru dari tangan-tangan lembut ibu-ibu dan nenek-neneklah kita belajar arti sebenarnya dari cinta dan pengabdian. Mereka adalah garda terdepan dalam perjuangan melestarikan bumi, dan mereka melakukannya dengan hati yang tulus.

Mari kita belajar dari mereka. Mari kita mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dan dari lingkungan sekitar. Karena seperti kata mereka, “Bumi ini adalah rumah kita bersama. Jika kita merawatnya dengan baik, ia akan merawat kita kembali.”

Berbagi Kasih untuk Bumi dan Sesama: Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang Peduli Lingkungan dan Manusia

Jumat, 21 Maret 2025, menjadi hari yang penuh makna bagi komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang. Di kediaman Hj. Suhartini, mereka menggelar serangkaian kegiatan yang mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Agenda hari ini tidak hanya tentang merawat bumi, tetapi juga tentang berbagi kasih kepada mereka yang membutuhkan.

Kegiatan dimulai dengan santunan anak yatim. Anak-anak yang hadir menerima bingkisan dengan senyum bahagia. Bantuan yang diberikan bukan hanya berupa materi, tetapi juga wujud perhatian dan kasih sayang dari para anggota komunitas. Melalui aksi ini, mereka ingin mengingatkan kita bahwa berbagi dengan sesama adalah langkah kecil yang bisa membawa kebahagiaan besar.

Selain itu, komunitas ini juga membagikan takjil untuk berbuka puasa kepada warga sekitar. Takjil yang dibagikan tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menyentuh hati. Ini adalah bentuk sederhana dari kepedulian, bahwa berbagi makanan bisa menjadi cara untuk mempererat tali persaudaraan.

Tak ketinggalan, dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia, komunitas ini melakukan penyemprotan eco enzyme di sekitar kota Sampang. Eco enzyme adalah cairan ramah lingkungan yang terbuat dari fermentasi limbah organik. Penyemprotan ini bertujuan untuk membersihkan lingkungan dan menjaga kualitas air. Dengan aksi ini, mereka ingin menunjukkan bahwa merawat bumi bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti memanfaatkan limbah rumah tangga untuk sesuatu yang bermanfaat.

Para anggota komunitas, yang sebagian besar adalah ibu-ibu dan nenek-nenek, menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk berkontribusi pada kebaikan. Mereka dengan tulus merawat bumi dan berbagi kasih kepada sesama, menjadi contoh nyata bahwa kepedulian bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja.

Kegiatan ini mengajarkan kita bahwa merawat bumi dan berbagi kasih kepada sesama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan merawat bumi, kita juga merawat kehidupan manusia. Dan dengan berbagi kasih, kita menciptakan dunia yang lebih baik untuk semua.

Semoga langkah kecil komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang ini bisa menginspirasi banyak orang untuk turut peduli pada bumi dan sesama. Karena setiap aksi baik, sekecil apa pun, akan selalu membawa dampak positif bagi dunia.

Penjilat di Pintu Kekuasaan: Musim Berubah, Wajah Berganti

Di antara gemuruh pesta demokrasi yang baru saja usai, ketika suara rakyat telah tertuang dalam lembaran-lembaran harapan, muncullah pemandangan yang tak pernah benar-benar hilang dari panggung kekuasaan: barisan penjilat yang kini bergegas merapat, mencari celah, menyusun ulang topengnya.

Dulu, saat pemilihan bergulir, mereka berdiri di seberang, mendukung lawan dengan penuh semangat, membalut diri dengan janji kesetiaan yang seakan tak tergoyahkan. Tapi politik, sebagaimana air yang selalu mencari celah, memungkinkan wajah-wajah ini berganti rupa dalam sekejap. Kini, setelah keputusan telah diambil oleh rakyat, mereka datang dengan senyum baru, merangkai kata-kata manis, menyesuaikan sikap seolah tak pernah ada permusuhan.

Mereka adalah aktor yang lihai membaca peta, tahu ke mana harus berlabuh ketika perahu telah menemukan tuannya. Mereka tak malu menyusun kembali narasi, menjual loyalitas yang dulu terpecah, mengulurkan tangan bukan untuk rakyat, tetapi demi kepentingan pribadi.

Inilah ironi kekuasaan, di mana politik tak hanya soal visi dan janji, tetapi juga tentang siapa yang paling mahir memainkan peran. Setiap lima tahun, wajah-wajah ini berputar dalam siklus yang sama—menghujat saat musim belum memihak, lalu memuja ketika peta kekuasaan telah berubah. Tak ada keteguhan, yang ada hanyalah kepentingan.

Mereka menyusup ke lingkaran baru, mencari celah agar tetap bertahan, mengukuhkan posisi dengan segala cara. Bukan demi rakyat yang mereka janjikan saat kampanye, tetapi demi kepastian bahwa mereka tak akan tersingkir dari panggung. Kekuasaan selalu menggoda, dan mereka yang tak memiliki prinsip akan selalu mendekat, menjilat, dan berharap mendapatkan bagian dari kue pemerintahan.

Barangkali inilah budaya politik yang tak pernah mati, lingkaran yang terus berputar, diisi oleh wajah-wajah yang berbeda tapi dengan laku yang sama. Dan bagi mereka yang benar-benar berjuang untuk rakyat, inilah saatnya menilai siapa yang berdiri dengan keteguhan, dan siapa yang hanya menari mengikuti arah angin.

Sebab sejarah telah mengajarkan satu hal: kekuasaan itu fana, tetapi harga diri dan kejujuran akan selalu meninggalkan jejak yang abadi.