
Jalan Ijen, Malang, bukan sekadar jalan berhiaskan pohon-pohon trembesi tua yang rindang. Di balik setiap langkah, ada cerita yang tersimpan, kisah kecil yang kini berdiam dalam hati mereka yang pernah melewati masa muda di sana.
Dulu, orang-orang menyebutnya SOB—”Sekolah Oleh Bojo.” Nama itu tersemat bukan karena resmi, tapi karena lelucon kecil yang menyelinap di sela obrolan warung kopi di antara para mahasiswa. Sobat-sobat itu, yang kini terpisah jarak dan waktu, dahulu sering berkelakar tentang bagaimana cinta bersemi di sela-sela gedung kampus mereka. Sebuah tempat sederhana yang menjadi saksi bisu harapan, perjuangan, dan pertemuan.
Kini, kampus itu telah berubah. Gedungnya yang dulu tegak menyambut pagi kini menjelma menjadi ruang kopi kekinian, tempat di mana aroma robusta dan arabika menggantikan dengung suara dosen. Media Times Indonesia berdiri megah, melanjutkan napas kebermanfaatan di tempat yang dulu penuh derai tawa dan keluhan.
Namun, di grup WA SO-BAT, nama yang bermakna Sobat Alumni Tersayang, kenangan itu tetap hidup. Ada yang mengenang momen menyelundupkan makanan ke kelas, ada pula yang tertawa mengingat kisah-kisah romansa kecil yang tak pernah diungkapkan. “Ingat nggak, waktu kita lari-larian cari dosen pembimbing?” seorang anggota grup menulis suatu sore. Yang lain membalas dengan deretan emoji tawa dan cerita lanjutan, seperti potongan mozaik masa lalu yang kembali disusun.
Di Jalan Ijen, setiap sudut seperti berbisik. Trotoarnya yang teduh masih menyimpan bayangan mahasiswa yang dahulu lalu-lalang, dengan tas punggung berisi tugas akhir dan kepala penuh mimpi. Di sana, mereka belajar tentang hidup, lebih dari sekadar angka dan teori. Mereka belajar berteman, menghadapi masalah, dan mencintai hidup dalam segala ketidaksempurnaannya.
Meskipun gedungnya telah beralih fungsi, dan masa diploma tinggal cerita, satu hal yang tak pernah berubah adalah kenangan itu sendiri. Kenangan yang terus dipelihara oleh mereka yang pernah menjadi bagian dari SOB. Karena bagaimanapun juga, meski fisik berubah, rasa tak pernah lekang oleh waktu. Jalan Ijen menjadi saksi abadi, bahwa mereka pernah ada, pernah muda, dan pernah bahagia di sana.









