
Malam di Gedung PKPRI Sampang begitu berbeda. Aura keteguhan dan semangat heroik memenuhi setiap sudut ruangan, menyusup ke dalam sanubari setiap jiwa yang hadir. Di tengah panggung, seorang pujangga tua dengan pandangan tajam dan napas yang tetap kuat meski usia telah menua, berdiri tegap. Ia adalah Ach. Buchari, pujangga dari Pasean, sosok yang sering kali disebut sebagai penjaga kata-kata penuh makna dari zaman ke zaman. Malam itu, ia bukan sekadar pembaca puisi. Ia adalah penyambung suara leluhur, penutur kisah perjuangan, pelukis kenangan akan pahlawan besar Sampang.
Judul puisinya sederhana, tapi penuh arti: Trunojoyo. Nama yang tak asing di telinga para warga Sampang, sebuah nama yang selalu diingat sebagai pelindung, pemberani, dan pembela tanah kelahiran. Di balik kata-katanya yang indah, Buchari menggali kembali semangat perjuangan yang mungkin mulai terkubur oleh debu zaman. Suaranya mengalun tenang, namun setiap suku kata yang ia ucapkan memiliki kekuatan. Ia bercerita tentang Trunojoyo yang pernah menjadi saksi dari getirnya perjuangan demi mempertahankan martabat negeri. Puisi ini bukan hanya untuk didengar, melainkan dirasakan, dicamkan, dan dibawa pulang dalam hati.
Setiap bait menggugah imaji para hadirin. Di bawah sorot lampu yang tak begitu terang, mereka seolah dibawa mundur ke masa silam, ke zaman ketika Sampang menjadi medan perlawanan. Buchari tak hanya membacakan puisi; ia menggambarkan kembali Trunojoyo sebagai sosok yang tak gentar menghadapi rintangan, yang rela mengorbankan segalanya demi tegaknya marwah Sampang, tanah leluhurnya yang ia cintai sepenuh hati. Lalu, seiring tiap baris yang dibacakan, sorak dan tepuk tangan mulai terdengar, semakin membesar dan bergemuruh, menyelimuti malam yang penuh syahdu ini.
Setiap kata dalam puisi Buchari bak bara api yang membakar semangat para hadirin. Mereka bukan hanya mendengarkan, melainkan turut merasakan amarah, cinta, dan kesetiaan Trunojoyo. Mereka terhanyut dalam kisah perjuangan yang menuntut darah, air mata, dan keberanian tanpa batas. Melalui suara Buchari, Trunojoyo kembali hidup di hati setiap orang di dalam gedung itu. Sosoknya yang dulu begitu dihormati sebagai pelindung rakyat, pahlawan yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap pertempuran, hadir kembali. Semua mata yang memandang sang pujangga seolah berkata, Kami masih mengingatmu, wahai Trunojoyo, semangatmu tak akan pernah padam.
Buchari melanjutkan pembacaannya dengan penuh penghayatan, mengisahkan saat-saat Trunojoyo berdiri di hadapan musuh yang jauh lebih besar, namun tak gentar sedikit pun. Dalam keadaan terdesak, di tengah ketidakadilan yang menghadangnya, Trunojoyo adalah lambang perlawanan yang gigih. Ia bukanlah sekadar pahlawan yang bertempur dengan pedang di tangan, tapi juga seorang penjaga marwah, penjaga kehormatan yang tak tergoyahkan. Trunojoyo adalah simbol dari Sampang yang tak pernah tunduk pada siapa pun, kecuali pada kehormatan dan kebenaran yang ia yakini.
Suara Buchari mulai merendah, namun getarannya masih terasa, seakan berkata bahwa semangat Trunojoyo tak akan pernah sirna. Di akhir puisinya, ia mengingatkan para hadirin akan pentingnya menjaga semangat dan nilai perjuangan yang ditinggalkan Trunojoyo. Tak lama setelah ia mengucapkan bait terakhir, keheningan menyelimuti ruangan, sejenak hening yang mendalam. Namun, keheningan itu pecah dengan tepuk tangan meriah yang membahana, tanda penghormatan bagi puisi yang sarat makna, dan untuk sang pahlawan yang berjasa menjaga tanah air.
Di balik usianya yang tak lagi muda, Ach. Buchari berhasil menghidupkan kembali Trunojoyo di hati para hadirin malam itu. Ia berhasil membuat Sampang kembali ingat pada sejarahnya, pada darah yang tertumpah di tanah mereka, pada perjuangan yang mengorbankan banyak nyawa demi kebebasan. Para hadirin pulang dengan semangat baru, membawa pesan dari seorang pujangga tua, untuk senantiasa menjaga marwah negeri, menjunjung tinggi nilai dan harga diri, seperti Trunojoyo yang tak pernah lelah menjaga kehormatan tanah kelahirannya.









