Semangat Trunojoyo dalam Puisi Ach. Buchari

Kiai Itqon dan Buchari

Malam di Gedung PKPRI Sampang begitu berbeda. Aura keteguhan dan semangat heroik memenuhi setiap sudut ruangan, menyusup ke dalam sanubari setiap jiwa yang hadir. Di tengah panggung, seorang pujangga tua dengan pandangan tajam dan napas yang tetap kuat meski usia telah menua, berdiri tegap. Ia adalah Ach. Buchari, pujangga dari Pasean, sosok yang sering kali disebut sebagai penjaga kata-kata penuh makna dari zaman ke zaman. Malam itu, ia bukan sekadar pembaca puisi. Ia adalah penyambung suara leluhur, penutur kisah perjuangan, pelukis kenangan akan pahlawan besar Sampang.

Judul puisinya sederhana, tapi penuh arti: Trunojoyo. Nama yang tak asing di telinga para warga Sampang, sebuah nama yang selalu diingat sebagai pelindung, pemberani, dan pembela tanah kelahiran. Di balik kata-katanya yang indah, Buchari menggali kembali semangat perjuangan yang mungkin mulai terkubur oleh debu zaman. Suaranya mengalun tenang, namun setiap suku kata yang ia ucapkan memiliki kekuatan. Ia bercerita tentang Trunojoyo yang pernah menjadi saksi dari getirnya perjuangan demi mempertahankan martabat negeri. Puisi ini bukan hanya untuk didengar, melainkan dirasakan, dicamkan, dan dibawa pulang dalam hati.

Setiap bait menggugah imaji para hadirin. Di bawah sorot lampu yang tak begitu terang, mereka seolah dibawa mundur ke masa silam, ke zaman ketika Sampang menjadi medan perlawanan. Buchari tak hanya membacakan puisi; ia menggambarkan kembali Trunojoyo sebagai sosok yang tak gentar menghadapi rintangan, yang rela mengorbankan segalanya demi tegaknya marwah Sampang, tanah leluhurnya yang ia cintai sepenuh hati. Lalu, seiring tiap baris yang dibacakan, sorak dan tepuk tangan mulai terdengar, semakin membesar dan bergemuruh, menyelimuti malam yang penuh syahdu ini.

Setiap kata dalam puisi Buchari bak bara api yang membakar semangat para hadirin. Mereka bukan hanya mendengarkan, melainkan turut merasakan amarah, cinta, dan kesetiaan Trunojoyo. Mereka terhanyut dalam kisah perjuangan yang menuntut darah, air mata, dan keberanian tanpa batas. Melalui suara Buchari, Trunojoyo kembali hidup di hati setiap orang di dalam gedung itu. Sosoknya yang dulu begitu dihormati sebagai pelindung rakyat, pahlawan yang selalu berada di garis terdepan dalam setiap pertempuran, hadir kembali. Semua mata yang memandang sang pujangga seolah berkata, Kami masih mengingatmu, wahai Trunojoyo, semangatmu tak akan pernah padam.

Buchari melanjutkan pembacaannya dengan penuh penghayatan, mengisahkan saat-saat Trunojoyo berdiri di hadapan musuh yang jauh lebih besar, namun tak gentar sedikit pun. Dalam keadaan terdesak, di tengah ketidakadilan yang menghadangnya, Trunojoyo adalah lambang perlawanan yang gigih. Ia bukanlah sekadar pahlawan yang bertempur dengan pedang di tangan, tapi juga seorang penjaga marwah, penjaga kehormatan yang tak tergoyahkan. Trunojoyo adalah simbol dari Sampang yang tak pernah tunduk pada siapa pun, kecuali pada kehormatan dan kebenaran yang ia yakini.

Suara Buchari mulai merendah, namun getarannya masih terasa, seakan berkata bahwa semangat Trunojoyo tak akan pernah sirna. Di akhir puisinya, ia mengingatkan para hadirin akan pentingnya menjaga semangat dan nilai perjuangan yang ditinggalkan Trunojoyo. Tak lama setelah ia mengucapkan bait terakhir, keheningan menyelimuti ruangan, sejenak hening yang mendalam. Namun, keheningan itu pecah dengan tepuk tangan meriah yang membahana, tanda penghormatan bagi puisi yang sarat makna, dan untuk sang pahlawan yang berjasa menjaga tanah air.

Di balik usianya yang tak lagi muda, Ach. Buchari berhasil menghidupkan kembali Trunojoyo di hati para hadirin malam itu. Ia berhasil membuat Sampang kembali ingat pada sejarahnya, pada darah yang tertumpah di tanah mereka, pada perjuangan yang mengorbankan banyak nyawa demi kebebasan. Para hadirin pulang dengan semangat baru, membawa pesan dari seorang pujangga tua, untuk senantiasa menjaga marwah negeri, menjunjung tinggi nilai dan harga diri, seperti Trunojoyo yang tak pernah lelah menjaga kehormatan tanah kelahirannya.

Pagelaran Seni Gambus dan Puisi Meriahkan Malam Sebelum Pelantikan Lesbumi NU Sampang

LESBUMI NU SAMPANG

Sampang – 28 Oktober 2024, Gedung PKPRI Sampang menjadi saksi kemeriahan pagelaran seni gambus dan puisi yang digelar oleh Lesbumi NU Sampang, Sabtu malam (27/10). Acara yang berlangsung hangat ini sukses menarik antusiasme dari para hadirin yang hadir. Rangkaian acara sebelum pelantikan ini diisi dengan berbagai penampilan yang menyentuh dan menggugah semangat kebersamaan.

Penampilan musik gambus yang dipimpin oleh Ra Wiam, yang sekaligus Ketua Lesbumi NU Sampang, menjadi puncak perhatian. Suara merdu alunan gambus dan irama khas lagu Banser serta Yaa Lal Wathon membuat para hadirin larut dalam suasana riang, bahkan turut berdendang dan berjoget ria. Ra Wiam membawakan musik dengan semangat yang memancarkan jiwa kebudayaan dan religiusitas, menggambarkan semangat Lesbumi NU Sampang dalam melestarikan tradisi.

Tidak hanya masyarakat umum, acara ini juga dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah KH. Itqon Busiri, yang ikut menikmati dan memberikan dukungan penuh atas kegiatan seni budaya ini. Keterlibatan beliau semakin menghidupkan suasana dan menjadi simbol dukungan kuat NU terhadap pelestarian budaya dan seni Islam.

Pagelaran ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi dan pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya yang kaya dalam bingkai religiusitas. Harapannya, acara ini dapat menjadi tradisi di Sampang dan semakin mempererat ikatan warga Nahdliyin melalui seni dan budaya.

Kontingen INKAI Gunong Sekar Sampang Raih Banyak Prestasi di Brawijaya University Karate Championship 2024

Sang Juara Karateka

Malang – 27 Oktober 2024, Kontingen INKAI Gunong Sekar Sampang kembali menorehkan prestasi gemilang di ajang bergengsi Brawijaya University Karate Championship 2024 yang diselenggarakan di GOR Pertamina, Universitas Brawijaya, Malang. Para atlet dari INKAI Sampang berhasil meraih juara di berbagai kategori, baik Open maupun Festival KATA dan KUMITE, mulai dari juara 1 hingga juara 3.

Kesuksesan ini tidak terlepas dari bimbingan intensif pelatih Senpei Herman bersama tim yang selalu mendampingi dan memberikan dukungan penuh kepada para atlet selama latihan hingga kompetisi berlangsung. Tak hanya itu, Ibu Ningsum, yang juga adalah istri dari Senpei Herman, berperan penting dalam memberikan dukungan moral dan logistik. Ia turut serta mengasuh dan memenuhi kebutuhan anak-anak asuhnya selama perjalanan dan berada di Malang. Dedikasinya yang tak kenal lelah bahkan menjadikannya sebagai tim dokumentasi yang aktif melaporkan setiap momen penting dari kompetisi ini.

Brawijaya University Karate Championship 2024 ini merupakan ajang yang kompetitif dan diikuti oleh berbagai kontingen karate dari seluruh Indonesia. Prestasi yang diraih oleh kontingen INKAI Gunong Sekar Sampang menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, disiplin, dan dukungan penuh dari pelatih serta pendamping dapat memberikan hasil yang maksimal.

Selamat kepada seluruh atlet INKAI Sampang yang telah berjuang dan memberikan kebanggaan bagi daerahnya!

Zahdhan INKAI Sampang Kembali Raih Juara 2 di Brawijaya University Karate Championship

Zahdhan Karateka

Setelah sebelumnya meraih Juara 2 pada Piala TNI, Zahdhan, karateka berbakat dari INKAI Sampang, kembali menunjukkan ketangguhannya dengan berhasil meraih Juara 2 di Brawijaya University Karate Championship yang digelar di GOR UB Pertamina. Prestasi ini menunjukkan ketekunan dan semangat pantang menyerah Zahdhan dalam dunia karate, sebuah pencapaian yang patut dibanggakan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda Sampang.

Meski menghadapi lawan-lawan yang tangguh, Zahdhan tampil penuh percaya diri, mempraktikkan teknik-teknik yang dipelajari dengan dedikasi tinggi. Keberhasilannya dalam kejuaraan ini bukan hanya sebuah kebanggaan pribadi tetapi juga membawa nama baik INKAI Sampang serta mengharumkan nama daerah di kancah nasional.

Semangat yang ditunjukkan Zahdhan adalah bukti bahwa dengan kerja keras, latihan tanpa henti, dan mental juara, kita bisa terus menorehkan prestasi gemilang. Maju terus, Zahdhan! Semoga prestasi ini menjadi batu loncatan untuk mencapai juara 1 di kesempatan berikutnya dan terus menginspirasi atlet muda lainnya.

Refleksi Hati: Tentang Kebencian yang Menggerus Diri

Refleksi Hati

Kebencian, ia datang bagai api kecil di sudut hati. Awalnya, kita pikir ia tak berarti, sekelebat asap yang mudah berlalu. Tapi dalam diamnya, ia menari di atas bara dan terus tumbuh, menghanguskan setiap ruang yang ia sentuh. Tanpa sadar, api yang kita rawat dengan diam itu menjadi kobaran besar, membakar ketenangan, menjalar pada pikiran, hingga memakan habis energi jiwa.

Kebencian adalah belenggu yang tak terlihat, namun kuatnya luar biasa. Ia mencengkram erat, mengikat kita pada bayang-bayang orang yang kita benci, seolah hidup hanya untuk mengawasi langkah-langkah mereka, menanti mereka tersandung, atau bahkan berharap ada luka pada mereka. Ironi yang pahit, sebab kebencian tak pernah benar-benar melukai orang lain; ia melukai kita, perlahan tapi pasti. Ia menguras cahaya dari hati, membuat jiwa mengabur dari makna sejati.

Di dalam kebencian, ada harapan yang terdistorsi, bahwa sakit kita akan terobati dengan jatuhnya mereka. Namun, dalam kebencian pula, kita justru lupa bahwa hidup ini sejatinya bukan tentang mereka yang kita benci, melainkan tentang perjalanan kita sendiri menuju kebaikan dan kedamaian. Kebencian tak pernah menuntun kita pada kebenaran, malah menutup jalan menuju hati yang bersih.

Maka, untuk apa kita merawat api yang hanya menghanguskan diri? Untuk apa kita menyiapkan racun dalam hati, sementara yang teracuni justru kita sendiri? Bukankah hidup ini singkat, dan ketenangan adalah harta yang langka?

Berhentilah sejenak, lepaskan belenggu itu. Bukan demi mereka yang kita benci, tapi demi kedamaian diri. Biarkan hati kita bebas, biarkan jiwa kita lepas dari beban yang sia-sia. Mari kita belajar memaafkan, menghapus api kebencian, dan kembali meniti jalan menuju ketulusan, menuju cinta yang lebih luas dan tulus.

Sebab, pada akhirnya, kebencian adalah penyakit hati yang hanya dapat disembuhkan dengan kesadaran dan kerendahan hati.

Mengenang dalam Doa dan Kebersamaan untuk Almarhum Faisal Mukorrobin

Di bawah langit yang memayungi malam, di antara cahaya dan lantunan doa, para sahabat berkumpul untuk mengenang seorang yang tak lagi bersama. Almarhum Faisal Mukorrobin, sosok yang semasa hidupnya telah menjadi bagian dari tawa, canda, dan dukungan yang tanpa batas. Malam itu, mereka yang tersisa hadir untuk mengenangnya dalam lantunan tahlil dan doa.

Dipimpin oleh H. Rosi, suara mereka mengalun dalam satu tujuan, satu harapan yang mereka titipkan kepada Sang Pencipta—agar Faisal berada dalam damai yang abadi. Di hadapan mereka, Yanto, Dodi, Hafi, Sohib, Imron, Fatah, Yudi, Iwan, dan Fajrin hadir, masing-masing membawa ingatan dan kenangan yang bersemi dalam diam. Setiap doa yang terucap mengalir bak sungai yang melintasi kerinduan, membawa harap, dan menyentuh kalbu.

Seusai doa, mereka tak segera beranjak. Makan bersama menjadi penutup, namun juga sebuah ritual kebersamaan yang menghangatkan. Di sela-sela suapan dan tegukan, ada tawa kecil dan cerita yang terangkai kembali—seperti sebuah benang yang terjalin, melukis kenangan tentang Faisal yang selalu menghangatkan hati mereka.

Malam itu tak hanya tentang perpisahan, tetapi tentang melanjutkan apa yang telah ditinggalkan Faisal. Dalam doa dan kebersamaan, mereka yang hadir seakan berjanji, bahwa kenangan tentang Faisal akan terus hidup, tersembunyi dalam hati mereka, abadi bersama doa yang terucap dengan penuh kasih.

Makna dalam Kata dan Kebersamaan: Mengenang dengan Doa dan Makan Bersama

Kata-kata adalah jembatan antara hati dan pikiran, namun terkadang makna yang kita titipkan dalam sebuah kata tak selalu sampai dengan utuh pada sang penerima. Seperti angin yang menyisipkan sepotong pesan kepada pepohonan, demikianlah kata-kata berjalan; kadang lemah lembut, kadang tak terdengar, namun selalu membawa harapan untuk dimengerti.

Dalam kehidupan, ada waktu-waktu ketika kata-kata sederhana menyimpan makna mendalam. Sebagai contoh, doa dan makan bersama dalam mengenang seorang teman—almarhum Sobat Tapai, Faisal Mukorrobin. Acara ini, meski dalam sekilas tampak seperti sekadar pertemuan dan makan bersama, sebenarnya menyiratkan cinta dan penghormatan. Ini adalah upaya kita untuk tidak hanya mendoakan perjalanan almarhum, tetapi juga merayakan kenangan yang ia tinggalkan dalam kehidupan kita.

Tidak semua orang yang hadir mungkin memahami dalamnya makna ini. Sebagian mungkin melihatnya sebagai rutinitas atau tradisi yang tak lebih dari kewajiban. Namun, bagi mereka yang mengenang, bagi mereka yang merasa kehilangan, acara ini adalah bisikan lembut dari hati, seruan kepada Yang Maha Kuasa untuk menyampaikan doa yang tersimpan dalam-dalam. Setiap sendok makanan yang disantap bersama, setiap gelas air yang diteguk, bukan sekadar ritual, melainkan simbol kepedulian, sebuah tanda bahwa di sini pernah ada Faisal, yang dalam kehidupannya mengajarkan arti pertemanan, dan dalam kepergiannya menyatukan kita dalam doa.

Inilah keindahan dari kata-kata, dari doa dan makan bersama. Ia bukan sekadar makna literal, melainkan makna yang melampaui kata-kata itu sendiri.

Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang Sambut HUT Ke-5 dengan Beragam Kegiatan di Taman Wijaya GOR Sampang

Komunitas Eco Enzyme Sampang

SAMPANG – 20 Oktober 20240, Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang merayakan HUT ke-5 dengan semangat kebersamaan dan kepedulian lingkungan yang tinggi. Acara yang berlangsung di Taman Wijaya GOR Sampang ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat yang ikut ambil bagian dalam beragam kegiatan, mulai dari pembuatan Eco Enzyme hingga senam bersama.

Di bawah kepemimpinan Umi Suhartini, ketua komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang, acara ini berhasil menarik antusiasme masyarakat untuk turut serta dalam perayaan yang bukan hanya penuh keceriaan, tetapi juga sarat akan edukasi dan aksi nyata dalam pelestarian lingkungan. Umi Suhartini bersama timnya menggelar sejumlah kegiatan yang melibatkan berbagai koordinator dan relawan.

Salah satu kegiatan utama adalah pembuatan Eco Enzyme, yang dikoordinir oleh Bu Rasmiati. Proses pembuatan Eco Enzyme ini dilakukan secara langsung di lokasi acara dan melibatkan peserta dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Pembuatan Eco Enzyme ini bertujuan untuk mengajarkan cara pengolahan sampah organik menjadi cairan serbaguna yang bermanfaat bagi kesehatan lingkungan. Dengan metode sederhana, Bu Rasmiati menjelaskan langkah-langkah dalam membuat Eco Enzyme, dari proses fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran hingga tahap akhir pengolahan yang menghasilkan cairan yang dapat digunakan sebagai pembersih alami.

Selain pembuatan, acara ini juga menghadirkan panen Eco Enzyme, yang dikoordinir oleh Ibu Tutun. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk melihat langsung hasil dari proses fermentasi Eco Enzyme yang sudah selesai. Ibu Tutun menjelaskan manfaat cairan Eco Enzyme yang telah dipanen, mulai dari kegunaannya sebagai pupuk organik, pembersih rumah tangga alami, hingga solusi untuk mengurangi polusi udara. Panen ini menjadi momen yang dinantikan, karena masyarakat dapat langsung melihat hasil nyata dari upaya pengolahan limbah organik yang mereka lakukan beberapa bulan sebelumnya.

Sementara itu, di area lain, senam sehat juga menjadi salah satu daya tarik utama dalam acara perayaan ini. Dikoordinir oleh Mbak Yuyun, senam diikuti oleh puluhan peserta yang dengan semangat mengikuti setiap gerakan yang dipandu oleh instruktur. Senam ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga sebagai bentuk kampanye hidup sehat yang selaras dengan misi utama komunitas Eco Enzyme, yaitu menjaga kesehatan lingkungan dan tubuh. “Senam ini kami adakan agar selain lingkungan yang sehat, tubuh kita juga tetap sehat. Gerakan-gerakan sederhana namun efektif ini bisa diikuti oleh siapa saja,” ujar Mbak Yuyun di sela-sela kegiatan.

Tidak ketinggalan, acara ini juga menyuguhkan sesi detoksifikasi yang dikoordinir oleh Bu Wiwik. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk menjalani proses detoksifikasi alami dengan menggunakan metode yang aman dan efektif. Detoksifikasi ini dianggap penting untuk membersihkan racun dalam tubuh yang terakumulasi dari pola hidup yang tidak sehat, serta memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kesuksesan acara ini tentu tidak lepas dari peran berbagai pihak yang turut membantu jalannya kegiatan. Sejumlah anggota komunitas, seperti Aba Jamali dan Umi Sisi, menjadi sosok-sosok yang aktif mendukung dari belakang layar, memastikan setiap detail acara berjalan lancar. “Kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam acara ini. Mulai dari yang membantu persiapan hingga pelaksanaan di lapangan. Ini adalah hasil kerja sama yang luar biasa,” ungkap Umi Suhartini.

Antusiasme masyarakat dalam mengikuti rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan semakin meningkat. Umi Suhartini berharap, melalui perayaan HUT ke-5 ini, semangat untuk terus berkontribusi dalam pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan Eco Enzyme semakin meluas ke seluruh lapisan masyarakat, terutama di Kabupaten Sampang.

Dalam sambutannya, Umi Suhartini juga menegaskan bahwa keberhasilan komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang tidak hanya diukur dari seberapa besar acara yang digelar, tetapi juga dari seberapa besar dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan masyarakat. “Kami ingin agar Eco Enzyme ini menjadi gaya hidup, bukan hanya sekadar tren sesaat. Kami ingin semua masyarakat sadar bahwa tindakan kecil seperti mengolah sampah organik bisa memberikan dampak besar bagi lingkungan dan kehidupan kita sehari-hari,” ujar Umi.

Acara ini diakhiri dengan doa bersama dan harapan agar komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang dapat terus berkontribusi bagi pelestarian lingkungan di masa mendatang. Masyarakat yang hadir pun pulang dengan pengetahuan baru serta semangat untuk memulai aksi nyata dalam menjaga lingkungan mereka masing-masing.

Dengan beragam kegiatan yang digelar, perayaan HUT ke-5 ini berhasil memperkuat rasa kebersamaan dan membangun semangat gotong royong untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang terus berkomitmen untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengolahan limbah organik dan gaya hidup ramah lingkungan, demi masa depan yang lebih hijau dan sehat bagi generasi mendatang.

Zahdhan Raih Juara 2 di Piala Panglima TNI Open Tournament 2024

Zahdhan Karateka

Surabaya – 19 Oktober 2024, Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Zahdhan, salah satu perwakilan dari kontingen Kodim 0828 Sampang, yang berhasil meraih juara 2 dalam ajang bergengsi Piala Panglima TNI Open Tournament 2024. Turnamen ini diselenggarakan oleh KODAM BRAWIJAYA V di GOR Futsal Internasional UNESA, Surabaya.

Kompetisi yang berlangsung ketat dan diikuti oleh para atlet dari berbagai kontingen TNI di seluruh Indonesia ini menjadi ajang pembuktian kemampuan serta semangat juang tinggi dari para peserta. Zahdhan menunjukkan performa luar biasa sepanjang turnamen, mampu mengalahkan sejumlah lawan tangguh hingga berhasil melaju ke babak final.

Meskipun harus puas di posisi kedua, prestasi ini tetap menjadi kebanggaan besar, khususnya bagi Kodim 0828 Sampang dan masyarakat Sampang pada umumnya. Keberhasilan Zahdhan di ajang ini merupakan bukti bahwa potensi atlet-atlet dari Sampang mampu bersaing di tingkat nasional.

Turnamen yang diselenggarakan oleh KODAM BRAWIJAYA V ini bertujuan untuk meningkatkan semangat sportivitas dan kekuatan fisik di kalangan anggota TNI, serta sebagai ajang untuk mempererat solidaritas antar kesatuan. GOR Futsal Internasional UNESA Surabaya menjadi saksi dari pertandingan yang berlangsung dengan penuh semangat dan fair play.

Prestasi Zahdhan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di Sampang dan sekitarnya untuk terus berprestasi di bidang olahraga dan membawa nama baik daerah di tingkat nasional.

Lesbumi NU Sampang: Tongkat Estafet Kepemimpinan dari H. Daiman ke Ra Wiam

H. Daiman & Ra Wiam

Dalam periode 2024-2029, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Sampang akan memasuki babak baru dengan pergantian kepemimpinan dari H. Daiman kepada Ra Wiam. Pergantian ini diharapkan membawa angin segar dalam upaya mengembangkan dan melestarikan seni budaya Islam di Sampang, dengan cara yang lebih inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kiprah H. Daiman dalam Memajukan Lesbumi NU Sampang

Di bawah kepemimpinan H. Daiman, Lesbumi NU Sampang telah berperan aktif dalam menjaga dan memperkaya khazanah seni dan budaya lokal yang sejalan dengan ajaran Islam. Banyak acara kebudayaan yang digelar, termasuk kesenian tradisional, seperti Petik laut (rokat tase’), macopat, dan shalawat, yang dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan. Tidak hanya itu, H. Daiman juga telah menjalin kerjasama dengan berbagai komunitas budaya di Sampang, sehingga Lesbumi tidak hanya menjadi pengawal tradisi, tetapi juga jembatan antara agama dan budaya.

Harapan Baru di Bawah Kepemimpinan Ra Wiam

Dengan estafet kepemimpinan yang berpindah ke Ra Wiam, ada harapan besar bahwa Lesbumi akan semakin luwes dalam menjaring para tokoh dan pelaku budaya. Ra Wiam dikenal sebagai sosok yang dekat dengan kalangan seniman dan budayawan di Sampang, serta memiliki visi untuk membawa Lesbumi menjadi lebih relevan di era modern. Salah satu fokus Ra Wiam adalah memperkuat keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya lokal, sehingga nilai-nilai tradisional dapat terus diwariskan dan dijaga kelestariannya.

Ra Wiam juga ingin memperluas peran Lesbumi, tidak hanya dalam ranah seni budaya, tetapi juga dalam konteks sosial keagamaan. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, diharapkan Lesbumi NU Sampang dapat menjadi wadah yang lebih inklusif, di mana pelaku budaya, akademisi, dan masyarakat umum bisa berkontribusi aktif dalam berbagai kegiatan.

Tantangan dan Peluang di Depan

Menghadapi dinamika zaman yang terus berubah, Lesbumi NU Sampang di bawah Ra Wiam tentu akan dihadapkan pada berbagai tantangan. Salah satunya adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai luhur budaya Islam di tengah arus modernisasi yang begitu kuat. Namun, di sisi lain, hal ini juga menjadi peluang besar untuk memperkenalkan tradisi-tradisi Islam lokal kepada dunia, baik melalui media digital maupun kerjasama dengan komunitas internasional.

Lesbumi juga diharapkan dapat lebih proaktif dalam mendokumentasikan kekayaan seni dan budaya Sampang, agar tidak punah di tengah pergeseran budaya. Selain itu, pengembangan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci sukses agar Lesbumi dapat terus relevan dan menjadi pusat penggerak budaya di Sampang.

Penutup

Pergantian kepemimpinan dari H. Daiman kepada Ra Wiam bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan momentum penting bagi Lesbumi NU Sampang untuk tumbuh dan berkembang lebih baik. Dengan dukungan penuh dari seluruh elemen masyarakat, Lesbumi dapat menjadi garda terdepan dalam melestarikan seni budaya Islam yang penuh makna, sekaligus memperkuat jati diri budaya Sampang di tengah tantangan globalisasi.