Sampang – 17 Oktober 2024, Kodim 0828 Sampang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung prestasi olahraga dengan mengirimkan lima karateka terbaik untuk berpartisipasi dalam “Open Tournament Panglima TNI” yang diselenggarakan di Surabaya. Kelima karateka yang terpilih, yaitu Bintang, Derbi, Ardini, Zahdhan, dan Dwipa, akan mewakili Sampang dalam ajang bergengsi tersebut.
Pelatih mereka, Senpei Herman, yang ditunjuk langsung oleh Kodim 0828 Sampang, telah memilih anak asuhnya dengan cermat. Mereka dianggap memiliki kemampuan dan mental juang yang siap bertanding di level kompetisi nasional. Dalam sesi briefing sebelum keberangkatan, Senpei Herman memberikan arahan kepada para karateka.
“Ini kesempatan besar, kita harus siap secara mental dan fisik. Nanti malam kita akan melakukan penimbangan, setelah itu istirahat dan fokus. Di gelanggang, kalian harus siapkan strategi bertanding yang matang dan jangan lupakan semangat juang,” ungkapnya penuh semangat.
Rombongan karateka berangkat dari KONI Sampang menggunakan mobil dinas yang difasilitasi oleh KONI, diiringi oleh salah satu anggota Kodim 0828 Sampang. Dukungan penuh dari berbagai pihak diharapkan dapat memacu semangat para atlet untuk membawa pulang prestasi terbaik bagi Kabupaten Sampang.
Kejuaraan ini diharapkan menjadi ajang pembuktian kemampuan bagi para karateka muda Sampang, serta mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Masyarakat Sampang pun turut memberikan dukungan penuh, berharap mereka mampu tampil maksimal dan meraih prestasi.
“Semoga mereka semua bisa memberikan yang terbaik untuk Sampang,” ujar salah satu pengurus KONI Sampang yang turut hadir melepas keberangkatan.
Dengan persiapan yang matang, mental yang kuat, dan semangat tinggi, Sampang berharap besar pada kontingen karateka ini untuk membawa pulang kemenangan.
Sampang, 16 Oktober 2024 – Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang turut berpartisipasi dalam acara penandatanganan komitmen bersama yang diselenggarakan oleh Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) di Politeknik Negeri Madura (Poltera) Sampang. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua FPRB, Sekretaris Daerah (Sekda) Sampang, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang, Kapolsekta, serta relawan dari berbagai elemen masyarakat.
Penandatanganan komitmen bersama ini merupakan langkah konkret untuk menjaga dan melestarikan ekosistem lingkungan hidup di Sampang. Ketua FPRB menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam upaya pengurangan risiko bencana, khususnya yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan. “Pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Setiap individu dan komunitas memiliki peran penting untuk memastikan bahwa ekosistem tetap terjaga untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Komunitas Eco Enzyme Nusantara Sampang, yang selama ini aktif dalam kegiatan pengolahan sampah organik menjadi eco enzyme, menyambut baik inisiatif ini. Melalui komitmen bersama ini, komunitas berharap dapat memperkuat upaya pengurangan sampah dan pencemaran lingkungan dengan memanfaatkan eco enzyme sebagai solusi alami untuk berbagai masalah lingkungan.
Acara ini tidak hanya menjadi momen untuk memperkuat sinergi antara komunitas dan pemerintah, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya upaya bersama dalam menghadapi perubahan iklim dan berbagai ancaman lingkungan yang semakin nyata. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang kuat, diharapkan langkah ini dapat menjadi awal dari gerakan yang lebih besar dalam menjaga kelestarian lingkungan di Sampang dan sekitarnya.
Turut hadir dalam acara ini adalah perwakilan dari berbagai lembaga dan organisasi relawan yang sama-sama memiliki misi untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi masyarakat.
Kematian, sebuah kata yang begitu singkat namun sarat makna, menghampiri setiap insan tanpa pengecualian. Kehadirannya tak terduga, datang tanpa pemberitahuan, dan selalu pasti. Ia adalah bayangan yang setia mengikuti kita, tetapi seringkali terlupakan di tengah hiruk pikuk hidup. Kita hidup dalam keheningan tentangnya, seolah-olah kematian adalah sesuatu yang jauh, sesuatu yang tidak akan segera menjemput. Namun kenyataannya, kematian selalu berada di dekat kita, hanya terpisahkan oleh sekat yang begitu tipis: waktu.
Hidup, pada dasarnya, adalah perjalanan menuju kematian. Setiap detik yang berlalu mendekatkan kita kepada akhir yang tak terelakkan. Tetapi, betapa sering kita lupa bahwa detik yang terus berlalu ini adalah detik-detik berharga yang tak akan pernah kembali. Setiap langkah yang kita ambil, setiap napas yang kita hirup, adalah momen-momen yang mengikis masa hidup kita. Begitu mudah kita terbuai oleh rutinitas, oleh ambisi duniawi, oleh keinginan untuk meraih lebih banyak, tanpa menyadari bahwa kita sedang berlomba dengan sesuatu yang tak bisa dihindari.
Namun, apakah kita harus hidup dalam ketakutan akan kematian? Tidak, justru kesadaran akan kematian seharusnya menjadi alasan utama bagi kita untuk hidup dengan lebih bermakna. Kematian, jika dipahami dengan benar, bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah sebuah pintu yang mengantar kita ke dimensi lain, ke sebuah keberadaan yang lebih abadi. Maka, kematian seharusnya tidak membuat kita gentar, tetapi justru menyadarkan kita akan pentingnya hidup dengan sepenuh hati.
Sebagai manusia, kita sering kali merasa bahwa kematian adalah tragedi. Namun, bukankah kematian adalah bagian alami dari siklus kehidupan itu sendiri? Semua yang lahir pasti akan mati, begitu pula sebaliknya. Alam semesta bekerja dalam harmoni yang sempurna, memberikan kehidupan dan menariknya kembali pada waktu yang tepat. Lantas, mengapa kita takut? Bukankah rasa takut ini hanya karena kita terlalu terikat pada dunia yang fana, pada hal-hal yang sejatinya tak akan kita bawa ke alam kubur?
Dalam tradisi filsafat dan agama, kematian kerap dihubungkan dengan konsep transendensi. Dalam agama-agama besar dunia, kematian dianggap sebagai gerbang menuju kehidupan yang lebih tinggi, yang lebih kekal. Tetapi, bagi mereka yang tidak percaya pada kehidupan setelah mati, kematian adalah akhir dari segalanya. Terlepas dari kepercayaan individu, satu hal yang pasti: kematian memberikan makna pada hidup. Tanpa kematian, mungkin kita tidak akan benar-benar menghargai kehidupan. Tanpa batas waktu, kita mungkin tidak akan pernah merasakan urgensi untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
Mungkin, apa yang perlu kita renungkan adalah bagaimana kita mengisi waktu yang kita miliki sebelum kematian datang menjemput. Apakah kita hanya mengejar kepuasan materi dan ambisi pribadi, ataukah kita berusaha memberikan makna yang lebih dalam pada hidup kita? Apakah kita hidup hanya untuk diri sendiri, ataukah kita hidup untuk orang lain, untuk memberikan manfaat bagi dunia di sekitar kita?
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa orang yang benar-benar hidup adalah mereka yang menyadari bahwa mereka akan mati. Dengan kesadaran ini, mereka menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, dengan penuh cinta, dan dengan penuh makna. Mereka tidak terjebak dalam rutinitas yang membosankan, dalam keinginan yang tak ada habisnya, tetapi menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhir mereka. Dan memang, tidak ada yang tahu kapan hari terakhir kita akan tiba.
Barangkali kita terlalu sibuk dengan rencana jangka panjang, terlalu larut dalam bayangan masa depan, sehingga kita lupa bahwa masa depan itu sendiri tidak dijamin. Kematian bisa datang kapan saja, tanpa permisi. Ketika kita berpikir bahwa masih ada banyak waktu, sebenarnya waktu yang kita miliki semakin sedikit. Ketika kita menunda-nunda untuk berbuat baik, untuk memperbaiki diri, untuk menyayangi orang-orang di sekitar kita, kita sedang membuang detik-detik berharga yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Maka, mari kita renungkan sejenak. Bukan untuk merasa takut, tetapi untuk menyadari bahwa hidup ini hanya sementara. Kematian bukanlah musuh yang harus kita hindari, tetapi sahabat yang mengingatkan kita untuk hidup dengan lebih bermakna. Setiap pagi ketika kita membuka mata, kita diberikan kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri, untuk mencintai lebih dalam, dan untuk hidup dengan lebih baik.
Akhirnya, kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik di mana kita mempertanggungjawabkan semua yang telah kita lakukan. Mari kita pastikan bahwa ketika kematian tiba, kita siap menyambutnya dengan damai, karena kita tahu bahwa kita telah hidup dengan sepenuh hati. Sebab, hidup yang diisi dengan kebaikan, cinta, dan makna adalah hidup yang tidak sia-sia, dan kematian hanyalah awal dari perjalanan yang lebih panjang.
Faisal Mukorrobin, sahabat tapai, adalah sosok yang selalu hadir dalam perjalanan hidup kita dengan senyum yang tak pernah luntur, meskipun kerikil tajam kehidupan kerap menghantam langkahnya. Dia adalah seorang sahabat yang memahami betul bahwa hidup adalah sebuah petualangan yang penuh dengan ujian, namun ia memilih untuk menari di atas luka, menikmati setiap detik yang Tuhan berikan dengan penuh rasa syukur.
Dalam setiap pertemuan, kita selalu belajar darinya. Bukan karena ia sempurna, bukan pula karena hidupnya selalu mudah. Justru, Faisal adalah cerminan dari ketabahan dalam menghadapi kesulitan. Ketika cobaan datang, ia tidak mengeluh, tetapi menghadapinya dengan tawa yang menular. “Hidup terlalu singkat untuk disesali,” katanya, sambil mengangkat gelas teh hangat di malam hari, saat kita duduk bersenda gurau. Kata-katanya sederhana, namun di balik itu, ada kedalaman yang sulit kita pahami sepenuhnya hingga sekarang.
Kerikil-kerikil itu mungkin menghantam keras, tetapi tidak pernah meruntuhkan jiwanya. Ia mengajari kita bahwa bahagia bukanlah keadaan bebas masalah, tetapi sikap hati yang memilih melihat keindahan meski dalam keterbatasan. Saat ia menghembuskan napas terakhirnya, kita sadar bahwa Faisal meninggalkan lebih dari sekadar kenangan. Ia meninggalkan pelajaran hidup yang tak ternilai: bahwa kebahagiaan adalah pilihan yang kita buat, bukan hasil dari keadaan yang sempurna.
Kini, meski raganya telah tiada, semangatnya masih hidup dalam setiap langkah kita. Kita mungkin tidak lagi bisa bercengkrama dengannya, namun setiap senyum yang kita bagi, setiap tawa yang kita hirup, adalah bagian dari warisan Faisal yang akan terus bersama kita.
Selamat jalan, sahabat tapai. Kerikil tajam mungkin telah berhenti menghantammu, tetapi cintamu pada hidup akan terus menghantam hati kami dengan kenangan dan pelajaran yang tak akan pernah luntur.
Keterlibatan organisasi dalam politik praktis seringkali menjadi sorotan, terutama ketika visi dan misi organisasi tersebut dapat terpengaruh. Penting untuk memahami bahwa organisasi seharusnya berfokus pada tujuan utamanya—melayani kepentingan anggota dan masyarakat luas—daripada terlibat dalam praktik politik yang dapat menciptakan konflik kepentingan.
1. Mengancam Visi dan Misi Organisasi Ketika sebuah organisasi mulai berpolitik praktis, ada risiko besar bahwa visi dan misi yang telah ditetapkan akan terganggu. Politisi seringkali memiliki agenda yang bisa berbeda dari tujuan asli organisasi. Ketika organisasi terikat dengan kepentingan politik tertentu, suara dan tindakan organisasi bisa menjadi tidak konsisten, sehingga mengaburkan nilai-nilai yang diusungnya.
2. Konflik Kepentingan di Kalangan Anggota Keterlibatan politik praktis bisa menciptakan perpecahan di antara anggota organisasi. Anggota mungkin memiliki pandangan politik yang berbeda, dan ketika organisasi mengambil posisi tertentu, ini dapat menimbulkan ketegangan dan konflik. Individu harus diizinkan untuk memilih sesuai hati nurani mereka tanpa tekanan dari organisasi. Jika organisasi tidak dapat menjaga netralitas, ini bisa merusak solidaritas di antara anggotanya.
3. Mengurangi Efektivitas dalam Mencapai Tujuan Sosial Fokus pada politik praktis dapat mengalihkan perhatian organisasi dari tujuan sosial yang lebih luas. Organisasi dibentuk untuk menciptakan dampak positif dalam masyarakat, dan keterlibatan dalam politik dapat mengurangi efektivitas dalam mencapai tujuan tersebut. Sebaliknya, jika individu merasa bebas untuk bertindak berdasarkan hati nurani mereka, mereka dapat lebih fokus pada isu-isu yang relevan dan berkontribusi secara positif.
4. Potensi Kerugian Reputasi Organisasi yang terlibat dalam politik praktis dapat berisiko kehilangan reputasi baik di mata publik. Keterkaitan dengan politik dapat membuat organisasi terlihat partisan dan mengurangi kepercayaan masyarakat. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengurangi dukungan untuk program-program yang diusung organisasi, dan menciptakan kesan bahwa organisasi tidak lagi berkomitmen pada tujuan sosial yang diembannya
Oleh karena itu, penting bagi organisasi untuk menjaga jarak dari politik praktis. Dengan memfokuskan diri pada misi dan visi yang telah ditetapkan, organisasi dapat berfungsi secara optimal, memberdayakan anggota untuk berkontribusi sesuai dengan keyakinan mereka, dan pada akhirnya, menciptakan dampak yang lebih besar di masyarakat. Mari kita jaga integritas organisasi kita demi kebaikan bersama.
Mertosari adalah sosok yang dianggap sebagai pahlawan lokal di wilayah Sampang, Madura. Menurut kisah yang berkembang, Mertosari dikenal sebagai pejuang yang berani melawan ekspansi Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung pada abad ke-17. Pada masa itu, Mataram berusaha memperluas kekuasaannya ke berbagai wilayah di Nusantara, termasuk Madura, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengaruh Islam dan kekuasaan politik di bawah Sultan Agung.
Mertosari dan pasukannya, yang terdiri dari penduduk lokal, berdiri melawan upaya ini. Dalam pertempuran yang sengit, mereka berusaha mempertahankan Sampang dari invasi pasukan Mataram. Meskipun jumlah pasukan Mertosari lebih kecil dan persenjataan mereka lebih sederhana, keberanian dan tekadnya menjadi simbol perjuangan rakyat Sampang melawan dominasi eksternal.
Akhir dari kisah Mertosari, seperti yang dituturkan dalam tradisi lisan, adalah kematiannya dalam pertempuran mempertahankan tanah kelahirannya. Meskipun kalah secara militer, Mertosari dikenang sebagai simbol perlawanan lokal terhadap kekuatan besar yang berusaha menguasai Sampang. Warisan perjuangannya terus hidup dalam ingatan masyarakat setempat, yang menjadikan Mertosari sebagai pahlawan yang mempertahankan kedaulatan dan martabat daerahnya.
Hingga saat ini, nama Mertosari diabadikan dalam berbagai cerita rakyat dan mungkin juga menjadi inspirasi bagi generasi penerus di Sampang, terutama dalam semangat menjaga identitas dan warisan budaya lokal.
Rindu itu memang berat, seperti beban yang tak terlihat namun terasa di setiap hela napas. Perpisahan selalu menyisakan ruang hampa, seperti detak jantung yang kehilangan ritme saat Nada harus berangkat lagi, melangkah menjauh menuju tempatnya belajar. Ada kesunyian di balik tatapan yang tertinggal, sementara bayangannya perlahan memudar, namun tidak pernah hilang dari ingatan.
Hidup selalu memberi kita dua pilihan—ditinggalkan atau meninggalkan. Seperti alur waktu yang tak pernah berhenti, begitu pula perpisahan dan pertemuan yang saling bergantian. Di dalam tiap kepergian, ada doa yang terucap, berharap jalan yang dilalui selalu dalam kebaikan. Tapi kematian, ah, kematian itu adalah perpisahan yang paling tak terbayangkan. Ia datang tanpa permisi, menciptakan kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi.
Namun, selama rindu masih bisa dirasa, berarti ada harapan. Setiap langkah yang Nada ambil adalah bagian dari perjalanan hidupnya, dan kelak, seperti fajar yang selalu datang setelah malam, ia akan kembali.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu menjadi momen penuh berkah dan kesyahduan. Di SMKN 1 Sampang, tahun ini peringatan tersebut digelar dengan penuh kemegahan namun tetap menyiratkan kesederhanaan yang sarat makna. Aula SMKN 1 Sampang tampak semarak, tak hanya dengan dekorasi yang penuh warna, namun juga dengan raut wajah para siswa yang memancarkan antusiasme mendalam. Sholawat yang bergema di setiap sudut aula menambah suasana khidmat, menyambut momen sakral memperingati kelahiran sang Nabi yang agung, Nabi Muhammad SAW.
Sebagai sosok yang bertanggung jawab penuh atas suksesnya acara, Bapak Khusnul Alam, Ketua Panitia, menunjukkan kelihaiannya dalam menata rangkaian acara dengan sangat baik. Setiap segmen acara dipersiapkan dengan cermat, memastikan bahwa acara tersebut berjalan tanpa hambatan dan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap yang hadir. Dalam sambutannya, Ibu Rahmawati, selaku Kepala Sekolah, menyampaikan rasa syukur dan harapan agar acara ini menjadi momentum untuk meneladani akhlak Rasulullah, serta memperkuat ikatan kebersamaan antara guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.
Rangkaian acara dibuka dengan syaroful anam, lantunan sholawat yang membuat setiap jiwa tenggelam dalam kekhusyukan. Alunan sholawat yang menggetarkan hati, mengajak semua yang hadir untuk bersatu dalam zikir dan doa. Setiap lirik yang dilantunkan seolah membawa hadirin lebih dekat kepada Allah dan Rasul-Nya. Tak hanya sekadar perayaan, namun sholawat ini menjadi jembatan spiritual bagi seluruh peserta, mengingatkan akan pentingnya meneladani Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Puncak acara adalah ceramah yang disampaikan oleh seorang ulama terkemuka dari Departemen Agama (Depag) yang sengaja diundang untuk memberikan pencerahan kepada para siswa dan guru. Dengan tutur kata yang lembut namun tegas, beliau mengajak semua yang hadir untuk merenungi kembali makna kelahiran Rasulullah SAW. Bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan. Beliau menekankan pentingnya menjaga adab, menjunjung tinggi kejujuran, dan senantiasa menebar kebaikan kepada sesama, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.
Ceramah tersebut tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga aspek kehidupan sehari-hari para siswa. “Anak-anakku, kalian adalah generasi penerus bangsa. Jadilah seperti Nabi Muhammad SAW dalam kesederhanaan dan kebijaksanaannya. Jadilah pelita di tengah kegelapan, dengan akhlak yang mulia dan ilmu yang bermanfaat,” ungkap beliau dengan penuh kebijaksanaan. Pesan tersebut disambut dengan keseriusan oleh para siswa yang hadir, memberikan kesan bahwa acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah pelajaran hidup yang mendalam.
Acara yang berlangsung dengan penuh khidmat ini terasa sangat elegan, meskipun diadakan dalam lingkungan sekolah. Sentuhan-sentuhan sederhana, seperti tata panggung yang rapi, dekorasi minimalis namun bermakna, dan alunan musik islami, menjadikan acara ini terasa hangat. Panitia, di bawah arahan Bapak Khusnul Alam, sukses menghadirkan suasana yang nyaman, menyentuh hati, dan penuh makna.
Saat acara mencapai penghujungnya, suasana tetap terjaga. Doa bersama dipanjatkan, memohon berkah dan rahmat dari Allah SWT agar seluruh warga sekolah senantiasa diberikan kelapangan ilmu, kelurusan niat, dan kekuatan iman dalam menempuh perjalanan hidup. Harapan yang disampaikan dalam doa tersebut mengingatkan kembali bahwa setiap langkah dan perbuatan manusia di dunia ini seharusnya selalu didasari oleh niat yang tulus dan ikhlas, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Acara ini bukan hanya menjadi momen perayaan Maulid Nabi, tetapi juga sebuah pengingat akan pentingnya nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Di tengah arus globalisasi yang deras, peringatan seperti ini menjadi benteng moral yang kokoh, menjaga para siswa agar tetap berada di jalan yang benar. SMKN 1 Sampang, melalui acara ini, tidak hanya memberikan pendidikan akademis kepada para siswanya, tetapi juga membangun karakter dan akhlak yang mulia, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Dengan acara yang tersusun rapi dan penuh makna ini, SMKN 1 Sampang kembali menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah upaya untuk menanamkan nilai-nilai spiritual yang kuat di hati setiap insan yang terlibat.
Di balik sorot matanya yang sering tertunduk, ada gelombang pikiran yang bergelut tanpa henti. Laki-laki itu, berdiri di ambang perasaannya, menggenggam harapan yang sulit ia ucapkan. Hatinya terbelah dua; satu sisi memeluk cinta yang sudah ia jalani bertahun-tahun dengan istrinya, sementara sisi lain merindukan kehangatan yang berbeda, yang belum pernah ia rasakan.
Namun, lidahnya kelu. Setiap kali ia hendak bicara, kata-kata itu tertahan, seakan dihadang oleh dinding yang tak terlihat—dinding rasa bersalah dan ketakutan. Ia tahu, kejujuran akan merobek kenyamanan yang sudah terbangun selama ini. Bagaimana bisa ia mengatakan bahwa hatinya, meski penuh dengan kasih untuk sang istri, juga mendamba yang lain? Bagaimana bisa ia mengungkapkan bahwa cinta tak selalu datang dalam satu bentuk, dan kadang ia menuntut lebih dari yang bisa ia pahami?
Ia memilih diam, menyimpan hasrat itu dalam sudut-sudut pikirannya yang gelap. Ia takut melukai, takut merusak keseimbangan yang rapuh. Dan begitu hari-hari berlalu, ia terus saja memandang sang istri, bertanya-tanya apakah kebisuan ini akan tetap menjadi temannya, atau suatu hari, keberanian akan datang—meskipun ia tahu, kejujuran kadang tak sekadar membebaskan. Kejujuran bisa menghancurkan.
Sering kita dengar bahwa lawan cinta bukanlah benci, melainkan ketidakpedulian. Dalam konteks ini, kepedulian menjadi salah satu bentuk cinta yang paling murni. Namun ironisnya, banyak orang yang mengaku cinta pada lingkungan tapi tak peduli terhadap kebersihan di sekitarnya. Hal ini terlihat jelas di tempat-tempat umum seperti Alun-Alun Trunojoyo Sampang, di mana sampah makanan berserakan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan sangat minim.
Padahal, cinta sejati terhadap lingkungan seharusnya diwujudkan dalam tindakan nyata, salah satunya dengan menjaga kebersihan. Ketika seseorang mencintai sesuatu, ia tentu akan menjaganya dengan penuh perhatian, bukan justru merusaknya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat masih sangat rendah. Masih banyak orang yang membuang sampah sembarangan tanpa memikirkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.
Inilah yang menjadi salah satu topik penting yang diangkat oleh Komunitas Eco Enzyme Sampang dalam zoom meeting bersama Ibu Indah dan Ibu Dewi, yang diadakan untuk memperingati Hari Ozon Sedunia. Dalam diskusi tersebut, kita diingatkan kembali bahwa polusi, termasuk sampah yang berserakan, berkontribusi terhadap kerusakan lapisan ozon dan perubahan iklim. Sayangnya, kepedulian masyarakat terhadap isu-isu lingkungan seperti ini masih jauh dari cukup.
Sebagai warga Sampang, kita perlu merenungkan kembali, apakah benar kita mencintai kota dan lingkungan kita? Jika jawabannya iya, sudah saatnya kita membuktikannya dengan tindakan yang nyata. Mulailah dari hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, dan lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Kita harus sadar bahwa menjaga lingkungan bukanlah tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tanggung jawab kita semua sebagai bagian dari masyarakat.
Melalui acara ini, Eco Enzyme Sampang berharap dapat membangkitkan kesadaran dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Peringatan Hari Ozon Sedunia seharusnya menjadi momentum bagi kita semua untuk merefleksikan perilaku kita sehari-hari. Jika kita benar-benar mencintai bumi dan lingkungan kita, mari tunjukkan dengan tindakan yang nyata. Sebab cinta sejati tak hanya terucap di bibir, tapi juga terlihat dari apa yang kita lakukan untuk menjaga dan merawatnya.