
Dahulu ada seorang Raja yang sering memberikan sedekah di setiap hari kamis di pusat kota Alun-alun, banyak masyarakat yang berdatangan ke pusat kota Alun-alun untuk menerima sedekah dari raja di setiap hari Kamis, dari kebiasaan itu akhirnya masyarakat menyebut istilah itu dengan “Ngemis”, dan saat ini Ngemis menjadi sebuah profesi yang terkoordinir.
Cerita diatas entah benar atau tidak, namun cukup masuk akal asal mula kata Pengemis, saat sudah menjadi di beberapa kabupaten dan kota besar ataupun kecil, bahkan di kota salah satu Madura Sumenep ada masyarakat yang berprofesi dalam satu kampung sebagai Pengemis.
Penghasilan yang cukup menggiurkan berprofesi sebagai Pengemis saat ini, karena dalam satu hari mereka bisa mendapatkan lebih dari cukup dengan hasil meminta-minta, bahkan melebihi gaji Aparat Sipil Negara setiap bulan.
Pemerintah sering menangkap dan menertibkan Gepeng atau Gelandangan dan Pengemis untuk diberikan pelatihan yang berguna bagi mereka dengan cara mencari uang dengan belajar membuat keterampilan membuat karya yang bisa dijual dan mendapatkan penghasilan, namun mayoritas dari mereka setelah mendapat pelatihan kembali lagi dengan profesi lama sebagai pengemis.
Diberbagai tempat pengemis sudah merata memasuki daerah perkotaan dan juga tingkat kecamatan, utamanya pasar tradisional yang hampir tiap tempat selalu ada orang-orang ibu atau bapak yang cukup berumur untuk meminta-minta kepada orang yang berjualan atau dijumpainya, profesi yang cukup mudah tanpa modal bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan.
Pengemis saat ini sudah menjadi profesi yang menjanjikan, namun cukup meresahkan masyarakat karena mereka menjadi pengemis bukan karena terpaksa untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi lebih kepada kebutuhan sekunder dan tersier, jika ini dibiarkan maka suatu saat nanti bisa menjadi sebuah profesi yang sangat hina atau menjadi sampah masyarakat.