
Bincang-bincang santai di teras dengan beberapa orang saja sangat seru, setelah semua persiapan kegiatan esok hari selesai, ternyata pengalaman pahit mereka banyak yang pahit terkait merasa dirugikan atau didzolimi.
Cerita Inisial F, Saya itu pernah ikut lomba kreasi dari sampah, karena aturan dari sampah semua, saya mencoba murni semua bahan dari sampah, saya termasuk finalis 10 besar, setelah dilombakan kembali, ternyata saya tidak dapat juara sama sekali, padahal sesuai kriteria aturan yang ada murni dari bahan sampah, dari 10 finalis itu satu-satunya yang murni dari sampah saya, akan tetapi kenapa tidak dapat juara. Ungkap dengan kesalnya F.
Yang membuat saya sakit hati adalah ketika ada pagelaran pameran, saya menyaksikan sendiri kreasi karya saya dipajangkan di stand pameran, kenapa kok tidak yang juara 1 sampai 3 yang dipajangkan, ucap saya dalam hati, akhirnya saya coba protes tapi dihalangi oleh pasangan saya, dan akhirnya saya urungkan, ungkapnya.
Lanjut Cerita, saya juga pernah menjadi penyuluh pertanian penanaman buah melon, hitung-hitung untuk membantu teman petani, dari awal sampai panen saya selalu untuk mengontrol, sampai akhirnya panen buah sesuai dengan ekspetasi, namun yang terjadi adalah, ada penyuluh pertanian yang digaji Pemerintah membawa banner meng-klaim bahwa itu hasil dari dirinya, ungkapnya dengan kesal.
Pejabat kita hanya bisa klaim dan mengklaim kerja orang, yang dapat nama mereka, apakah semua pejabat kita semua seperti itu? Entahlah, namun kendati demikian banyak fakta yang terjadi di sekitar lingkungan kita, daerah utara utamanya 1 tempat panen bisa diklaim banyak oleh dinas-dinas tertentu, untuk apa mereka lakukan?? Tentunya Untuk pencitraan saja, terus kerja apa mereka selama ini?? Mungkin menjadi pengamat nunggu hasil kerja orang lain jadi, baru bisa diklaim, ya begitulah oknum pejabat, imbuhnya dengan nada kesal.




















































“Jika ingin sistem Pendidikan kita bagus, anak didik kita bagus dan berkualitas, bersikaplah tegas pada anak didik kita”. 
